Islam Ahlusunnah Bukan Islam Bani Umayyah! (I)

Islam Ahlusunnah Bukan Islam Bani Umayyah! (I)

.

Bahaya Islam Umawi

Persrembahan Buat Para Salafiyyîn Pemuja Pohon Terkutuk!

Berbeda dengan pemahaman kebanyakan kalangan bahwa Islam itu hanya tampil dengan dua wajah; Ahlusunnah dan Syi’ah! Tetapi anggapan itu tidak benar… . Ternyata ada wajah lain yang cenderung terlupakan atau kurang disoroti. Ia adalah wajah Islam Umawy, islam vesri Bani Umayyah yang justeru berambisi sejak awal kemunculannya untuk memonopoli sebagai Islam sejati!

Ketika keberadaan islam Umawy ini terlupakan atau tidak diperhitungkan maka akan menimbulkan banyak dampak negetif dalam kajian para pengkaji sejarah dan ajaran Islam di samping berbahaya dalam praktik keberagamaan umat Muslim! Di antaranya, bahwa bisa saja akan ada sekelompok dari orang Syi’ah yang secara keliru menganggap seluruh Ahlusunnah adalah Nashibi, mengingat mereka mendapati beberapa tokoh islam Umawy yang berkedok sebagai tokoh Ahlusunnah menampakkan kesinisan bahkan permusuhannya kepada Ahlulbait Nabi as.! Sebagaimana bisa jadi para penganut faham Ahlusunnah menjadi tertipu karena menganggap beberapa tokoh Islam Umawy itu sebagai tokoh Islam Ahlusunnah-nya! Dan akibatnya mereka membela para tokoh islam Umawy itu dan yang lebih bahaya dari itu adalah kita meniru ulah mereka dan dengan tidak menyadari telah terjebak dalam jaring perangkap islam Umawy. Karenanya pembagian wajah Islam menjadi tiga; (1) Islam Ahlusunnah (2) Islam Syi’ah dan (3) Islam Umawy adalah sebuah keniscayaan dan bukan pula hal mengada-ngada mengingat memang demikian kenyataannya!

Islam Umawy ini diwakili oleh Ibnu Taimiyah Cs dan sekarang tongkat estafet itu diambil alih oleh kaum Wahhâbi-Salafi.

Tentu islam Umawy ini memiliki ciri yang membedakannya dari Islam Ahlusunnah dan Islam Syi’ah! Sebagaimana ada titik temu antara Islam Ahlusunnah dan Islam Syi’ah.

Titik Temu Islam Ahlusunnah dan Islam Syi’ah

Yang palig mencirikan kedua wajah Islam ini adalah kentalnya kecintaan, penghormatan, pengagungan dan hubungan emosional yang sangat dalam dengan Nabi Muhammad Saw. dan Ahlulbait beliau as. Ini adalah titik temu yang benar-benar menggannggu tidur nyenyak dan ketentraman para penganut islam Umawy.

Sementara itu ciri yang sangat menonjol dari islam Umawy di samping kekakuan sikap dan kesembronoannya dalam menvonis kafir setiap yang berbeda dengan mereka dan tentunya yang paling special dari mereka adalah sikap kebencian yang mendalam kepada Ahlulbait as. dan kurangnya penghormatan kepada Nabi Muhammad Saw.

Mu’awiyah Adalah Pencetus Islam Umawy

Tidak diragukan lagi bahwa Mu’awiyah adalah ‘Putra Harapan Kaum Kafir Quraisy’ yang diharap mampu menjayakan proyek para pembesar kafir Quriasy yang bertekuk lutut di hadapan kejayaan Islam, puncaknya dengan ditaklukkannya kota Mekkah. Abu Sufyan berusaha meraih kembali kejayaan palsu kemusyrikan kaum Musyrik Quraisy melalui putra kebanggaannya, Mu’awiyah. Setelah berhasil merebut kekhalifahan, Mu’awiyah segera menjalankan agenda besarnya; memerangi Islam yang dibawa dan diperjuangkan Nabi bersama para sahabat mulianya. Namun kali ini, ia tidak menggunakan cara-cara klasik para moyangnya. Ia menjalankan peperangan ini dengan cerdas, halus, berlahan namun pasti dan tidak lupa, ia perangi Islam Rasulullah Saw. dengan menggunakan nama Islam itu sendiri sebagai senjata, tentunya setelah membodohi banyak kalangan dengan tipu muslihat dan makar jahatnya!

Mu’awiyah Menghancurkan Wibawa Nabi Saw. dan Kebanbian!

Tidaklah akan ada gunanya rasanya apabila kekuasaan yang telah ia rebut dengan makar dan tipu muslihat, dan ia pertahankan tangan besi dari umat Islam itu tidak ia jadikan senjata ampuh untuk menghancurkan Islam yang sejak dahulu ia perangi ‘mati-matian’ bersama ayah-ibunya, paman-pamannya dan kakek-kakeknya dan yang untuknya keluarga besanya telah kehilangan banyak anggota keluarga dan kerabat kesayangan mereka, selain tentunya harta yang tidak sedikit! Karenanya, agenda besar islam Umawy adalah bagaimana Islam sejati yang dibawa Rasulullah Muhammad Saw dapat dimusnahkan dan diganti dengan islam versi Umayyah.

Untuk itu semua, pertama-tama yang harus dilakukan adalah bagaimana kewibawaan Nabi Saw. dan kenabian harus segera diruntuhkan. Muhammad saw. –dalam pandangan Mu’awiyah dan Bani Umayyahjangan terlalu dijadikan nabi... ia harus jadi Muhammad biasa… Muhammad putra Abu Kabsyah! Bukan Muhammad yang Wamâ yanthiqu ‘Anil hawâ in huwa illâ wahyun yûhâ/ Tiada ia berucap dari hawa nafsunya melainkan seluruh ucapannya dari wahyu dan berdasar bimbingan wahyu! Demikian pula, segala panji yang akan mengingatkan kita kepada Nabi Muhammad saw. harus segera dimusnahkan… semua yang mewakili wajah cemerlang Nabi Saw. harus dicoreng dan dihinakan serta dikubur! Dan umat harus dibutakan terhadapnya… Mesti harus dibina generasi yang hanya mengenal wajah islam Umawy yang mewakili satu-satunya Islam edisi resmi yang otentik… . Hindun sebagai wanita sucinya yang harus dikuduskan… Abu Sufyan sebagai Kekek kaum Muslimin dan Mu’awiyah, selain sebagai Khalifah resmi Rasulullah Saw. ia juga ‘Paman Kaum Muslimin/Khâlul Mu’minin’. Dan tentunya tidak ketinggalan bahwa Yazid adalah pewaris sejati tahta kenabian dan duta Tuhan di muka bumi-Nya!

Tidak sulit medapatkan bukti-bukti yang mendukung apa yang saya katakan di atas. Namun karena terbatasnya waktu dan ruang saya hanya akan saya cukupkan dengan menghadirkan beberapa bukti saja.

Bukti Pertama:

Zubair bin Bakkâr (yang perlu dicatat di sini bahwa ia tidak perlu diragukan keberpihakannya kepada islam Umawy, sehingga Anda tidak perlu meragukan penulikannya) dalam kitab al Muwaffaqiyyât-nya meriwayatkan,

“Mathraf bin Mughîrah bin Syu’bah berkata, ‘Aku bersama ayahku masuk menjumpai Mu’awiyah. Dan ayahku biasa mendatangi Mu’awiyah dan berbincang-bincang lalu sepulangnya ia menceritakan kepada kami kehebatan akal dan ide-ide Mu’awiyah. Lalu pada suatu malam ayahku pulang dan ia menahan diri dari menyantap makan malamnya, aku menyaksikannya sedih. Aku menantinya. Aku mengira kesedihannya karena kami. Lalu aku berkata, ‘Wahai ayah! Mengapakah aku menyaksikanmu bersedih sepanjang malam? Maka ia menjawab, ‘Hai anakku! Aku baru saja datang dari seorang yang paling kafir dan paling busuk’! Aku bertanya, ‘Apa itu?’ ia berkata, ‘Aku berkata kepada Mu’awiyah di saat aku berduaan dengannya, ‘Wahai Amirul Mukminin! Sesungguhnya engkau telah mencapai usia lanjut, andai engkau tampakkan keadilan dan kamu berikan kebaikan. Andai engkau memperhatikan kondisi kerabatmu dari Bani Hasyim, engkau sambung tali rahim mereka. Demi Allah, tidak ada lagi pada mereka sesuatu yang perlu engkau takutkan. Hal itu akan membuat nama harum Anda menjadi langgeng dan pahala tetap untuk Anda. Maka ia berkata, ‘TIDAK! TIDAK! Sebutan apa yang aku harap dapat langgeng! Saudara dari suku Taim (Abu Bakar maksudnya) berkuasa lalu ia berbuat baik, lalu apa? Ia mati dan sebutannya pun juga mati bersamanya! Paling-paling orang-orang hanya menyebut-nyebut, ‘Abu Bakar! Abu Bakar! Saudara suku Adi (Umar maksudnya) berkuasa, lalu ia bersungguh-sungguh dalam berbuat baik, kemudian ia mati, maka mati pula sebutannya. Paling-paling orang-orang hanya menyebut-nyebut, Umar! Umar! SEMENTARA ITU ANAK PAK ABU KABSYAH NAMANYA DIPEKIKKAN SETIAP HARI LIMA KALI; “AKU BERSAKSI BAHWA MUHAMMAD ADALAH RASUL ALLAH” Amal dan sebutan apa yang akan langgeng! Celakalah engkau! Tidak! sehingga nama orang itu (Nabi Muhammad Saw maksudnya) dikubur dalam-dalam/ dafnan-dafnan![1]

Dalam kata-katanya yang penuh dengan luapan kekafiran itu ia menyebut Nabi Mulia saw. dengn sebutan putra Abu Kabsyah tentu dengan tujuan menghina, sebab kaum kafir Quraisy dahulu demikian memanggil Nabi Muhammad Saw. dengan maksud menghina. Abu Kabsyah adalah nama bapak asuh Nabi saw. saat kanak-kanak! Kata-kata itu sendiri dapat menjadi bukti betapa Mu’awiyah tidak kuasa menyembunyikan kekafirannya dan sekaligus kedengkiannya kepada Nabi Islam Muhammad Saw.

Bukti Kedua:

Ketika Mu’awiyah mendengar seorang muadzdzin mengumandangkan suara adzan, dan ia sampai pada pasal: Asyhadu anna Muhammad Rasulullah. Mu’awiyah berkata, ‘Untukmu ayahmu hai anak Abdullah! Engkau benar-benar berambisi besar. Engkau tidak puas sehingga engkau gandengkan namamu dengan nama Rabbul ‘Âlâmîn.[2]

Penyebutan nama Nabi Saw. dalam syahadatain baik dalam pasal adzan maupun selainnya adalah sepenuhnya berdasarkan wahyu. Kita kaum Muslimin meyakini bahwa beliau saw. adalah Nabi dan Utusan Allah, tiada berkata dan bertindak melainkan atas dasar bimbingan wahyu… akan tetapi mereka yang tidak mempercayai beliau sebagai Nabi dan Rasul Allah pasti akan memaknai apa yang dibawa Nabi Saw. sebagai buatan dan kepalsuan yang dibuat-buat oleh Muhammad Saw. Kenyataan ini telah ditegaskan dalam Al Qur’an. Kecuali apabila Mu’awiyah juga berani menuduh ayat tentangnya sebagai kepalsuan buatan Nabi Muhammad Saw.

Allah berfirman:

أَ لَمْ نَشرَحْ لَك صدْرَك (*) وَ وَضَعْنا عَنْكَ وِزْرَكَ (*) الَّذي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ (*) وَ رَفَعْنا لَكَ ذِكْرَكَ (*) فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً (*) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً (*) فَإِذا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (*) وَ إِلى‏ رَبِّكَ فَارْغَبْ

َ.

 “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu.* Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu,* Yang  memberatkan punggungmu.* Dan Kami tinggikan bagimu sebutan ( nama ) mu.* Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,* sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.* Maka apabila kamu telah selesai ( dari sesuatu urusan ), kerjakanlah dengan sungguh- sungguh ( urusan ) yang lain,* Dan  hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”(QS asy Syarh [94];1-8(

Imam asy Syafi’i meriwayatkan  tafsir ayat kelima di atas dari Mujahid, ia berkata: “Tiada Aku (Allah) disebut melainkan engkau juga disebut bersamaku, “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah.

Bukti Ketiga:

Dalam kitab al Mu’ammarîn karya Abu Hâtim as Sijistâni, “Pada suatu hari Mu’awiyah bertanya kepada Amad bin Abad al Hadhrami (seorang yang berusia panjang), ‘Apakah engkau pernah menyaksikan Hasyim (kakek ayah Nabi saw.)? ia menjawab, ‘Ya. Pernah. Ia seorang yang tinggi gagah dan tanpan …’ Mu’awiyah melanjutkan, ‘Apakah engkau pernah melihat Muhammad?’ Amad bertanya balik, ‘Muhammad siapa?’ Mu’awiyah menjawab, ‘Rasul Allah.’ Amad menjawab, ‘Mengapakah engkau tidak mengagungkannya sebagaimana Allah mengagungkannya, mengapakah kamu tidak menggelarinya dengan Rasulullah?! [3]

Bukti Keempat:

Mu’awiyah Bangga Dipanggil Sebagai Rasulullah!

Imam ath Thabari dalam kitab Târîkh-nya meriwayatkan bahwa ketika ‘Amr bin Âsh mendelegasikan serombongan penduduk Mesir untuk menemui Mu’awiyah di istananya, ia berpesan agar mereka tidak memanggil Mu’awiyah dengan gelar Amirul Mukminin, ‘Amr bin Âsh berkata, ‘Perhatikan! Jika kalian masuk menemui putra Hindun maka hendaknya kalian tidak mengucapkan salam dengan mengatakan ‘Assalamu alaikum wahai Khalifah. Karena yang demikian membuat kalian lebih dihargai oleh Mu’awiyah. Dan hinakan dia sebisa kalian. Mu’awiyah sepertinya telah merasakan adanya makar jahat ‘Amr bin Âsh. Ia berkata kepada penjaga istana, ‘Sepertinya aku telah mengetahui bahwa putra Nâbighah (nama ibu ‘Amr bin Âsh yang juga dikenal sebagai pelacur murahan_pen) hendak menghinakan kedudukanku di hadapan mereka. Kerenanya, perhatikan jika delegasi itu datang, tahan mereka di luar dengan cara hina sehingga setiap dari mereka hanya akan memikirkan keselamat dirinya sendiri. Setelah mereka dipersilahkan masuk, orang yang pertama kali masuk adalah seorang dari penduduk Mesir bernama Ibnu Khayyâth, ia ketakutan sampai-sampai ia terputus-putus bicaranya, lalu ia berkata, “SALAM ATASMU WAHAI RASULULLAH. Kemudian yang lainnya pun mengikuti dengan menggelari Mu’awiyah dengan gelar Rasulullah! Dan Mu’awiyah pun tidak menghardik atau menyalahkan mereka karena hal itu![4]

Mu’awiyah Mengolok-olok Syariat Rasulullah Saw.

Adapun sikap pelecehan dan menghina terhadap syari’at Nabi Muhammad Saw. yang ditampakkan terang-terangan oleh Mu’awiyah maka bukanlah hal samar…. Mengakui Ziyâd yang lahir dari pasangan suami istri yang tidak sah sebagai anak Abu Sufyan sebab ibu Ziyad yang bernama Sumayyah telah melacur dengan Abu Sufyan (yang memang sangat dikenal suka berzina)… maka Mu’awiyah mengakuinya sebagai Ziyad bin Abu Sufyan setelah sebelumnya disebut Ziyad bin Abihi (Ziyad putra ayahnya) adalah satu dari puluhan jika bukan ratusan contoh kasus pelecehan terhadap Syari’at dan bukan hanya sekedar pelanggaran hukum semata! Sehingga rasanya, untuk sementara waktu tidak perlu saya berlama-lama menyita waktu pembaca terhormat dengan menyebutnya satu persatu. Mungkin dalam kesempatan lain kami akan menyajikannya untuk para pembaca.

Mu’awiyah Sukses Membangun Jaringan Front Pembela Bani Umayyah.

Dan sebagai bukti keberhasilan Mu’awiyah dalam kejahatannya merusak kesadaran kaum Muslimin, ia mampu menciptakan di setiap zaman kelompok yang getol membela bani Umayyah dan mengecam siapapun yang berani membongkar kejahatan Mu’awiyah dan Bani Umayyah dengan menuduhnya sebagai Syi’ah! Pembenci Salaf Shaleh! Zindiq dll. Kenyataan ini akan Anda ketahui buktinya segera setelah artikel ini diterbitkan… Anda akan menyaksikan bagaimana mereka akan menvonis kami sebagai Syi’ah Rafidhah yang Zindiq! Sebab dalam kamus islam Umawy, wajib hukumnya bahkan mungkin termasuk rukun iman terselubung mengagungkan Mu’awiyah. Maka barang siapa yang membongkar kejahatan Mu’awiyah dan Bani Umayyah maka ia zindiq/bukan Muslim!

 (Bersambung InsyaAllah)


[1] Al Akhbâr al Muwaffaqiyyât:576-577, Murûj adz Dzahab; al Ms’ûdi,4/41 dan an Nashâih al Kâfiyah; Sayyid Habib Muhammad bin Aqil bin Abdullah bin Umar bin Yahya Al Alawi al Hadhrami asy Syafi’i:93. Setelahnya al Habib Muhammad bin Aqil menyebutkan bahwa Zubair bin Bakkâr adalah Qadhi kota suci Mekkah, seorang yang sangat masyhur di kalangan para Muhadditsin dan parawi hadis shahih. Dan ia tidak tertuduh menjelek-jelekkan keutamaan dan keadilan Mu’awiyah sebab ia tergolong dari pembela Mu’wiyah. Dan seperti Anda ketahui bahwa di antara keluarga Zubairiyyin banyak yang menyimpang dari Ali (karramallahu wajhahu).

[2] Syarah Ibn Abil Hadîd al Mu’tazili,10/101. Para tokoh Islam Umawy selalu menuduh siapapun yang tidak berpihak kepada Mu’wiyah sebagai Syi’ah Rafidhah tidak terkecuali Imam Ibnu Abil Hadîd, Imam al Hâkim, Imam ath Thabari, Imam Syafi’i dll. Seperti dapat dibuktikan!

[3] An Nashâih al Kâfiyah:95.

[4] Kisah lebih lanjut dapat Anda baca langsung dalam Târîkh ath Thabari. Baca juga an Nashâih al Kâfiyah:94.

10 Tanggapan

  1. Assalam,,, Islam bani umayyah/wahabiyah tdk mau mengenal sejarah Agama yg SAH,,tdk punya analisah,,mereka takut penguasah,,takut susah,,bayak gelisah,,bikin Umat jadi resah,,,,

  2. Pingin banget nginjek2 mukanya Muawiyah bin abu sufyan laknatullah..

    Ibnu Jakfari:

    Baca juga artikel lanjutannya. pasti seru!

  3. Bissmillahihorrohmanirohim.
    Saya berlindung kepada Allah swt…atas isu dan fitnahan yang disebarkan oleh blog ini dan penulisnya…kepada saudara2ku kaum muslimin dimana pun anda berada janganlah gampang percaya begitu saja…ini menyangkut urusan dunia dan akherat..ujung2nya keneraka,janganlah main main dengan agama…antara sunni dan syiah sudah tidak bisa dpertemukan lagi, beratus2 tahun para ulama berusaha untuk berdiaolog dan berdikusi tapi nihil..tidak ada solusi selain dari pada dengan pedang (perang…). Bagi kita yang kurang menguasai ilmu (alquran dan hadist) jangan coba 2 untuk berdialog dengan kaum syiah, bisa2 kita ikut tersesat dan termakan syubhat yang mereka lontarkan…sekarang begini saja, Allah dan rasulnya sudah memerintahkan kita untuk kembali kepada Alquran dan sunnah nabi saw kalo ada perbedaan…kembali lah kepada Alllah dan rasulnya…nah untuk menguji siapa yang benar diatas agama Alah COBA LIHAT AMALAN,CARA BERIBADAH DAN CARA BERAGAMA KITA ,APAKAH ITU SEMUA SAMA DENGAN NABI SAW….??? kalo masih menyimpang ato kita masih mengikuti imam imam kita tanpa ada tuntunan atau contoh dari nabi saw bisa jadi kita sudah tersesat…
    sekali lagi berhati2lah wahai saudarku kaum muslimin….selama ini kita sudah berada diatas sunnah nabi saw dengan akidah ahlussunnah waljamaah yang lurus dan murni, jangan sekali2 tergelincir dan mau terprovokasi oleh agama syiah yang telah terkontaminasi oleh yahudi dahulu.jangan mau tertipu dengan sebutan ahlul bait mereka….itu hanya trik untuk merangkul simpati…kita sangat mencinta dan menyayangi keluarga nabi Saw tapi bukan syiah..

  4. Semula saya merasa bahwa ungkapan sebagian tokoh Syiah yang mengingkari adanya tahriful-quran dalam sekte Syiah, seperti as-Shaduuq, Syarif al-Murtadha itu memang murni dari hati mereka, namun setelah membaca buku “Skandal al-Quran Syiah” keyakinan saya menjadi kandas seperti dihempas ke batu cadas.

    _____________________

    Ibnu Jakfari:

    Tuduhan bahwa para tokoh Syi’ah yang menolak adanya Tahrif Al Qur’an sebagai berpura-pura saja sudah lama dituduhkan oleh para penghujat dan tukang-tukang fitnah! namun coba Anda perhatikan baik-baik bahwa para tokoh itu ketika menolak isu/tuduhan adanya tahrif itu tidak sekedar menolak begitu saja sehingga dapat dianggap sebagai berpura-pura atau TAQIYYAH. Ketika menolak isu itu para tokoh Syi’ah itu telah mengajukan berbagai bukti yang menolak terjadinya tahrif!

    Pertanyaan saya, Akankah seorang yang hanya berpura-pura itu mengajukan bukti-bukti kuat yang akan melemahkan keyakinan yang konon mereka sembunyikan! Artinya jika mereka itu sebenarkan meyakini tahrif Al Qur’an, lalu bukankah aneh, jika mereka mau mengajukan berbagai bukti yang akan melemahkan bahkan meruntuhkan keyakinan terjadinya tahrif tersebut (yang kata para penghujat itu adalah keyakinan para tokoh itu)?!
    jika mereka itu sedang berpura-pura mestinya mereka akan mencukupkan dengan mengatakan, misalnya: TIDAK! Kami tidak meyakini Tahrif Al Qur’an!

    Semoga Allah menganugerehkan kepada kita semua akal sehat yang dengannya kita dapat berpikir jernih dan sehat pula! Amin…..

  5. @Jawwad’
    Saya adalah SYI”I dan saya baca Al-Qur’an dari yang saya beli di Gramedia.

  6. assalamualaykum y akhi,, sy mau tanya,, apakah ada kaitannya y antara muhammadiyah dan faham kaum bani umayyah? thx n makasih jawabanya.

  7. Ass. saya bukan pengikut syiah yang dikatakan banyak orang bahwa sesat dan saya juga bukan pengikut sunni yang katanya lurus tapi saya berpegang kepada Kitabullah Al-qur’an dan sunnah Nabi sesuai pesan Rasulullah. Maksudnya adalah yang haq adalah haq dan yang bathil adalah bathil jika benar sejarah menyatakan bani umayyah demikian maka itu urusan Allah mengadilinya, maka itu jika ada data terpercaya maka harap selalu di upload agar kami yang awam juga mengetahui, untuk Ahlul bait dan keluarga Nabi maka saya sangat menghormati beliau karena tidaklah ada guru ataupun sosok ayah yang lebih baik di dunia ini kecuali Rasulullah SAW maka dari itu kita sebagai muslim tentu tidak berlebihan jika menghormati dan mencintai keluarga Beliau, adapun yang berani mencaci maki keluarga Rasulullah apalagi sampai menganiayanya maka kelak akan berhadapan dengan Allah SWT.
    Siapa yang mengatakan Imam Ali RA tidak memiliki keutamaan maka perlu dipertanyakan keislamannya, Rasulullah pernah bersabda : Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya, siapa yang ingin datang padaku maka datangilah Ali.

    Saya tidak berani menyalahkan Syiah apalagi saya tidak mengenal apa itu syiah dan ajarannya, saya hanya mendengar dari berita2 bahwa syiah itu sesat mungkin juga ada benarnya tapi apa benar syiah itu sesat keseluruhan (macam2 aliran syiah).

    Tapi ada pertanyaan yang mengganjal di hati dan harap di jawab,
    1. Berapa macam aliran syiah
    2. Bagaimana Ajaran syiah itu
    3. Apa benar syiah mengikuti Ali RA atau ada kemungkinan ada ajaran sempalan dari kaum pembenci Islam.
    4. Siapa itu shaba
    5. Berbanding luruskah ajaran syiah dengan Kitabullah Al-qur’an (kitabullah dijamin benar karena ada janji Allah SWT untuk menjaganya, maka itu saya pribadi menjadikan Al-qur’an sebagai filter, maksudnya jika ada hadits yang bertentangan dengan Al-qur’an maka dengan sendirinya saya anggap palsu karena mustahil Rasul bertentangan dengan Allah SWT).

    Dengan hormat saya meminta petunjuk dari saudara agar dapat menjelaskannya dengan dasar yang kuat beserta dalil dari Kitabullah maupun Hadits, harap kirim ke e-mail saya JFRSYAH@Gmail.com karena tidak setiap saat saya berkunjung ke web ini.
    Ass. wahai saudaraku.

  8. Ass. Ada pertanyaan lagi yang mengganjal,
    #. Bagaimana status anak hasil mut’ah apakah ada di atur bahwa ayahnya tetap memiliki tanggung jawab mengenai nafkah dan pendidikan anak tersebut, jika ada tolong sampaikan dalil Al-qur’an dan hadits.

    Mengingat ada perintah kepada kita kaum muslim untuk menjaga keluarga kita termasuk di dalamnya istri dan anak agar terhindar dari api neraka (artinya berilah pendidikan yang baik sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW).

    Dan ada juga perintah agar ber infaq dan ber sedekah utamakan keluarga dan kaum kerabatmu setelah itu baru tetanggamu setelah itu baru orang yang kamu kenal. (Anak dan istri adalah keluarga artinya seorang ayah wajib menafkahi anaknya yang belum baligh atau mampu sesuai kadar kemampuannya).

    Atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih.

    Harap jawab melalui email saya JFRSYAH@Gmail.com

    Ass.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: