Islam Ahlusunnah Bukan Islam Bani Umayyah! (II)

Islam Ahlusunnah Bukan Islam Bani Umayyah! (II)

Bahaya Islam Umawi Dalam Merusak Agama!

Persembahan Buat Para Salafiyyîn Pemuja Pohon Terkutuk!

Mu’awiyah Menentang Hukum Allah dan Rasul-Nya dengan Biadab!

Seperti telah disinggung dalam artikel sebelumnya bahwa sulit rasanya menghitung-hitung kejahatan Mu’awiyah dan rezimnya terhadap agama ini dan kehormatan hukumnya serta kemuliaan Nabi-nya! Mengakui Ziyâd bin Ubaid (nama asli ayah Ziyâd dari pasangan istri bernama Sumayyah) sebagai anak Abu Sufyân padahal Sumayyah ketika hamil ia masih sah berstatus sebagai istri Ubaid adalah penentangan terang-terangan yang sulit bahkan mustahil dicarikan pembelaannya. Sebab dalam hukum Islam yang diketahui umum oleh semua kaum Muslim baik yang awam apalagi yang berilmu bahwa setiap anak akan diikutkan penasabannya kepada bapak sah bukan kepada bapak biologisnya!

Kejahatan ini tidak semata karena motivasi politik semata, namun lebih dari itu, dengannya Mu’awiyah mengumumkan perang terbuka dengan hukum Allah dan rasul-Nya! Karenanya dan karena tindakan yang membuktikan kemunafikan dan kekafirannya yang lain, tidak sedikit di antara para ulama yang tegas-tegas mangkafirkan Mu’wiyah! Bahwa penampakan dua kalimat syahadat dan menjalankan ritual-ritual tertentu itu ia lakukan dengan kedok kemunafikan tidak lain!

Ibnu Abil Hadîd al Mu’tazili menegaskan, “Mu’awiyah cacat (diragukan) agamanya di kalangan para masyâikh (tokoh-tokoh) kami –semoga Allah merahmati mereka. Mu’awiyah disinyalir adalah seorang ateis/tidak beragama.![1]

Beliau juga mengatakan, “Banyak dari ulama kami mengecam agama Mu’awiyah. Mereka tidak hanya menvonisnya sebagai orang FASIQ. Mereka mengatakan bahwa ia adalah seorang ateis yang tidak percaya kepada kenabian. Para ulama kami itu telah menukil ketergelinciran ucapannya yang terekam yang tegas-tegas menunjukkan kenyataan itu!. (kemudian beliau menyebutkan kisah yang diriwayatkan oleh Zubair bin Bakkâr dalam kitab al Muwaffaqiyât-nya, seperti telah kami sebutkan dalam bukti pertama dalam artikel yang lalu.[2]

Dan setelahnya, Ibnu Abil Hadîd melanjutkan, “Adapun tindakan-tindakannya yang menyimpang dari keadilan yang nyata seperti ia mengenakan baju sutra, menenggak minuman dalam cawan-cawan emas dan perak sehingga Abu Da’rdâ’ menegurnya dengan keras seraya mengatakan aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya seorang yang meminum dari gelas-gelas dari emas dan perak sesungguhnya ia akan tersungkur dalam api neraka.” Lalu jawaban Mu’awiyah yang mengatakan, ‘Tetapi menurutku tidak apa-apa! Maka Abu Dardâ’ berkata, “Siapakah yang akan membelaku dari Mu’awiyah?! Aku kabarkan kepadanya hukum Rasulullah saw. tetapi ia bantah aku dengan pendapat pribadinya. Demi Allah! Aku tidak akan tinggal bersamamu di satu negeri pun!

Berita ini telah diriwayatkan oleh para ahli hadis dan para ahli fikih dalam kitab-kitab mereka dalam masalah tentang pembuktiann dibolehkanya berhujjah dengan khabar seorang yang adil. Berita ini mencacat keadilannya (Mu’awiyah) sebagaimana mencacat akidah/keimanannya. Sebab seorang yang terang-terangan menentang hukum yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. dengan mengatakan, ‘Tetapi menurutku tidak apa-apa!’ terhadap sesuatu yang tegas-tegas telah diharamkan Rasulullah saw jelas orang seperti itu tidak sehat akidahnya.

Hal lain yang telah diketahui umum dari prilaku Mu’awiyah adalah bahwa:

  • Ia memonopoli harta umat Islam.
  • Menghukum dera orang yang tidak bersalah.
  • Menggugurkan hukum Allah atas orang yang bersalah.
  • Menetapkan hukum berdasarkan pendapat pribadinya/sekehendaknya terhadap rakyat dan juga terhadap hukum agama.
  • Ia mengakui Ziyâd sebagai anak Abu Sufyân padahal ia tahu sabda Nabi saw., “Seorang anak itu akan dinisbatkan kepada si pemilik ranjang/suami dari wanita yang melahirkan anak itu adapaun bagi si pezina adalah dihalangi dari mengakuinya sebagai anak.”
  • Ia membantai Hujr bin Adi dan kawan-kawannya sementara mereka adalah orang-orang yang haram dicucurkan darah-darah mereka.
  • Ia menghinakan Abu Dzarr al Ghiffâri dan mencaci-makinya serta memulangkan ke kota Madinah dengan dinaikkan kendaraan tanpa pelana semua ia lakukan karena Abu Dzarr mengkritik penyimpangannya.
  • Ia melaknati Ali, Hasan dan Husain serta Abdullah bin Abbas di atas mimbar-mimbar Islam.
  • Ia melimpahkan kekhilafahan kepada Yazîd putranya padahal telah nyata kefasikan dan kegemarannya meminum minuman keras secara terang-terangan, bermain alat-alat permainan yang diharamkan Islam. Tidur bersama para penyanyi dan penari wanita cabul serta membawa mereka kemana pun ia pergi.
  • Memberikan peluang untuk bani Umayyah merampas total maqam/kedudukan mulia Rasulullah saw. dan kekhilafahannya sehingga manusia-manusia seperti Yazîd bin Abdul Malik dan al Walîd bin Yazîd yang jelas-jelas fasik dan bejat itu berhasil menjadi khalifah. Padahal mereka itu terbukti fasik dan gemar menggubah bait-bait syair yang menghujat Tuhan dan yang membuktikan ketidak beragamaan mereka!.. [3]

Saya tidak akan menanti dari para pemuja pohon tertkutuk dalam Al Qur’an untuk membenarkan seluruh data sejarah yang membongkar kejahatan, kefasikan dan kekafiran Mu’awiyah dan rezim Umayyah! Sebab bagi mereka mengimani kesucian Mu’awiyah dan bani Umayyah adalah rukun iman paling inti! Mereka siap mengkufuri ayat-ayat suci Al Qur’an dan sabda-sabda Nabi saw. yang berani menyentuh kesucian Bani Umayyah! Apalagi sekedar data-data sejarah! Pasti mereka akan mengkufurinya. Bagi mereka bani Umayyah titisan dewa suci yang harus disucikan sesuci-sucinya! Dan siapapun yang berani membongkar data-data kejahatan mereka langsung divonis zindiq, Rafidhah khabîts dan lain sebagainya.

Pada ketarangan Ibnu Abil Hadîd al Mu’tazili di atas banyak data tentang kejahatan Mu’awiyah yang sengaja disembunyikan dengan rapi oleh para pemuja pohon terkutuk; bani Umayyah! Sementara sebagian lainnya berusaha membelanya dengan mencari-carikan seribu satu uzur konyol demi menyelamatkan sisa-sisa harga diri tuan mereka! Bahkan ada yang dengan tanpa malu menyulap sederetan kejahatan terkutuk itu menjadi kebaikan dan hasanât yang akan meberatkan timbangan amal Mu’awiyah kelak di akhirat! Sungguh memalukan!

Ya, banyak sekali data rahasia yang dibongkar Ibnu Abil Hadîd dalam keterangannya di atas. Akan tetapi saya hanya akan menyoroti beberapa saja darinya dalam kesempatan ini.

Mu’awiyah Memproklamasikan Ziyâd Sebagai Anak Abu Sufyân

Sebelum saya menyebutkan kisah rinci proses proklamasi Ziyâd sebagai anak Abu Sufyan oleh Mu’awiyah, saya ingin mengatakan bahwa: Tidak ada seorang yang biadab dan durhaka serta tidak punya rasa malu melebihi seorang anak yang mensohorkan bapaknya sebagai PEZINA MURAHAN dan kemudian mengakui anak hasil zinanya dengan seorang palacur murahan adalah anak bapaknya dan nasabnya pun disambungkan dengan nasab bapaknya! Semua orang yang waras dan punya harga diri pasti akan malu jika diketahui umum bahwa bapaknya adalah seorang pezina murahan yang doyan wanita murahan! Namun berbeda dengan Khalifah kebanggaan para pemuji pohon terkutuk; Mu’awiyah. Ia bangga memproklamasikan bahwa bapaknya, Pak Abu Sufyân putra Shakhr telah berzina dengan seorang pelacur murahan bernama Sumayyah yang masih berstatus sebagai istri sah Ubaid. Dengan proklamasi itu, Mu’awiyah seakan hendak mengatakan –baik ia sadari maupun tidak- bahwa Abu Sufyân, bapakku adalah seorang lelaki hidung belang dan pezina murahan. Ia telah menzinai seorang pelacur profesional murahan bernama Sumayyah dan hasilnya adalah anak hasil zina yang bernama Ziyâd!

Yang juga tidak kalah gilanya adalah si Ziyâd! Ia bangga diproklamasikan sebagai anak hasil zina! Hasil bersundal ibu bejatnya dengan Abu Sufyân sebagai pelanggan tetap rumah pelacuran di kota Thaif yang dikelolah oleh tuannya.

Kisah Proklamasi Ziyâd Sebagai Anak hasil Zina Abuu Sufyân; Bapak Mu’awiyah Sebagaimana diriwayatkan Para Ulama Ahlusunnah!

Imam Ibnu Jarîr ath Thabari dan para ulama ahli sejarah lainnya seperti al Mas’udi, Ibnu al Atsir, Ibnu Asâkir, Ibnu Hajar, al Ya’qûbi melaporkan peristiwa memalukan itu dalam rangkaian peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 44 H. Dan laporan para ulama ahli sejarah itu saling melangkapi.

Pada awalnya, Sumayyah adalah budak milik seorang kepala suku desa Zindurad. Ketika ia sakit, ia memanggil seorang tabib bernama Hârits bin Kaladah ats Tsaqafi. Setelah ia obati, ia berhasil sembuh dari penyakitnya. Sebagai rasa terima kasihnya, ia hadiahkan Sumayyah kepadanya. Sumayyah sempat melahirkan dua anak. Pertama bernama Nafî’ (yang dipanggil dengan sapaan Abu Bakrah) tetapi Hârits tidak sudi mengakuinya sebagai anaknya. Kemudian Sumayah melahirlkan lagi untuk tuannya seorang bayi bernama Nâfi’. Bayi ini pun tidak ia akui juga sebagai anaknya!

Dan ketika Nabi saw. mengepung kota Thaif, Abu Bakrah turun menemui Nabi saw. dan beriman kepada beliau.

Maka kemudian Hârits berkata kepada anak keduanya yang bernama Nâfi’ (yang pada awalnya ia ingkari sebagai anaknya itu), “Engkau adalah putraku.”

Hârits telah mengawinkan Summayah dengan budak laki-lakinya yang bernama Ubaid. Ia seorang budak berkebangsaan Romawi. Sumayyah melahirkan Ziyâd untuk Ubaid, suaminya.

Ketika Abu Sufyân berkunjung ke kota Thaif di masa Jahiliyah. Ia singgah ke kedai khamer/cafe miras yang dikelolah oleh seorang bernama Abu Maryâm as Salûli (dilaporkan bahwa di kemudian hari ia memeluk Islam dan bersahabat dengan Nabi saw.).

Abu Sufyân berkata kepadanya, “Aku lagi memuncak syahwatku, maka carikan untukku seorang wanita lacur!”

Abu Maryâm berkata, “Apakah kamu berhasrat dengan Sumayyah?”

Abu Sufyân, “Ya, bolehlah, walaupun ia wanita yang sudah memanjang payu daranya dan mengendor perut buncitnya!’

Maka Abu Maryâm mendatangkan Sumayyah. Segera Abu Sufyân menyeretnya ke kamar lacur dan bersundal dengannya. Tidak lama setelahanya, Abu Sufyân keluar sambil menghempas-hembaskan jubbah. Abu Maryâm berkata bertanya, ‘Hai Abu Sufyân, bagaimana engkau rasakan Sumayyah? Abu Sufyân menjawab, ‘Boleh juga pelacur itu, andai bukan karena payu daranya yang sudah mengendur dan bau mulutnya yang busuk. Lalu tak lama kemudian, Sumayyah hamil dan setelahnya ia melahirkan Ziyâd. Sejak kelahirannya, Ziyâd dipanggil Ziyâd bin Udaid dan terkadang juga dipanggil Ziyâd bin Sumayyah! Sebab memang Sumayyah itu adalah istri Ubaid yang dipekerjakan sebagai pelacur oleh tuannya, Hârits bin Kaladah. Ia harus giat melacur untuk menyetor upeti kepada tuannya. Sumayyah dikenal sebagai pelacur profesional yang bergabung bersama para pekerja seks yang melayani para laki laki bejat tak bermoral seperti Abu Sufyân bapaknya Mu’awiyah dan ditempatkan di sebuah lokalisasi di luar pinggiran kota Thaif yang dikenal dengan nama Hârah al Baghâyâ/KAMPUNG PELACUR!

Inilah kisah persundalan Abu sufyan bapak Mu’awiyah!

Nah, sekarang Anda pasti ingin mendengar prosesi proklamasi Ziyâd sebagai Anak Abu Sufyân yang dilakukan oleh Mu’awiyah demi tujuan-tujuan jahatnya!

Pada awalnya, Ziyâd adalah di pihak Imam Ali as. ia ditugasi menjadi gubernur daerah Persia. Ia menjalankan tugas dengan baik dan mampu menyatukan wilayah yang dipimpinnya mengakui kekhalifahan Imam Ali as.

Mu’awiyah sangat terganggu dengan keberhasilan Ziyâd. Ia mengancamnya. Busr bin Arthât (orang suruan Mu’awiyah) menangkap kedua putra Ziyâd yang bernama Ubaidullah dan Sâlim dan mengancam akan membunuh keduanya jika Ziyâd tidak mau membelot dan membela Mu’awiyah.

Imam Ali menyurati Ziyâd mengingatkan bahaya kelicikan Mu’awiyah. Tetapi setelah kematian Imam Ali as. Ziyâd  berkhianat, ia tunduk di bawah tekanan Mu’awiyah. Ziyâd segera bergabung dengan Mu’awiyah dan kemudian dikembalikan lagi ke tugasnya sebagai gebernur di wilayah Persia.

Beberapa tahun setelahnya, Mu’awiyah bermaksud mengakuinya sebagai anak bapaknya dari hasil perzinahannya dengaan Sumayyah ibu Ziyâd.

Mu’awiyah memerintahkan saudarinya yang bernama Juwairiyah mengundang Ziyâd ke rumanya, setelah ia datang dan dipersilahkan masuk, Juwairiyah membuka kerudungnya dan berkata kepadanya, ‘Engkau adalah saudaraku!’ Abu Maryam yang memberitahukan kepadaku. Setelahnya, Mu’awiyah mengumpulkan penduduk kota Syam di masjid dan kemudian mengajak Ziyâd bersama menuju masjid. Abu Maryâm diminta berdiri dan memberikan kesaksian bahwa Ziyâd adalah anak Abu Sufyân. Ia berpidato, “Aku bersaksi bahwa Abu Sufyân datang ke tempat kami di Thaif, saat itu, di masa jahilyah aku adalah penjual khamer. Abu Sufyân berkata, ‘Aku ingin melacur.’ Maka aku datangi ia dan aku katakan, ‘Aku tidak mendapatkan seorang palacur pun selain Sumayyah, budaknya Hârits bin Kaladah.’ Abu Sufyân berkata, Bawakan ia ke mari walaupun ia sudah kendur semua badanya dan jorok juga penampilannya.”

Mendengar kesaksian Abu Mryâm yang membongkar kehinaan status ibunya,  Ziyâd segera memotong dan berkata, ‘Hai Abu Maryam! Engkau didatangkan di sini sebagai saksi bukan  sebagai pencaci-maki.”

Abu Maryam menjawab, ‘Anda sejak pertama, aku dibebaskan dari tugas ini pasti lebih aku sukai. Aku hanya bersaksi apa yang aku saksikan dan aku lihat. Demi Allah, aku menyaksikan Abu Sufyân menarik lengan bajunya lalu mengajaknya masuk ke makar mesum dan mengunci pintunya. Sumayyah terlentang melayani nafsu birahi Abu Sufyân. Sesaat kemudian Abu Sufyân keluar sambil mengusap-ngusap keringat di dahinya. Aku berkata kepadanya, ‘Hai Abu Sufyân, bagaimana engkau dapati pelayanannya?’ Abu Sufyân menjawab, Hai Abu Maryam, aku tidak merasakan pelacur sehebat dia tapi sayang payu daranya telah bergelantungan/mengendur berat dan busuk bau mulutnya.

Ziyâd berkata, ‘Hai sekalain hadirin. Orang ini telah bersaksi dan menyampaikan apa yang telah kalian dengar. Aku tidak tau apakah yang ia sampaikan itu benar atau palsu. Dan para saksi lebih mengatahui apa yang mereka katakan.

Maka seorang bernama Yunus bin Ubaid –saudara Shafiyyah binti Ubaid bin Asad ats Tasaqafi dan Shafiyyah itu  adalah tuannya Sumayyah- berdiri dan berkata, ‘Wahai Mu’awiyah! Rasulullah saw. telah menetapkan hukum bahwa anak harus dinisbatkan kepada suami ibunya/si pemilik ranjang sah/suami sah wanita yang melahirkan anak dari rahimnya. Sedangkan bagi pelacur dicegah dari mengaku anaknya dari hasil zina! Sementara engkau menetapkan bahwa anak dinisbatkan kepada lelaki yang menghamili ibu anak itu. Engkau sengaja menentang Kitabullah dan bersebrangan   dengan Rasulullah saw. hanya karena kesaksian Abu Maryâm bahwa Abu Sufyan berzina dengan Sumayyah. Mu’awiyah marah berat dengan berkata kepadanya, “Dsemi Allah hai Yunus! Berhentilah kamu atau akan aku buat melayang kepalamu! Yunus berkata, “Bukankah setelahnya aku akan kembali kepada Allah.

Sungguh luar biasa kedurhakaan dan kebejatan mental Mu’awiyah… ia bangga diproklamasikan bapaknya sebagai pezina murahan dan marah ketika dibela ayahnya agar tidak ditersohorkan bapaknya sebagai pezina!

Seorang penyair berkata:

Ketahuilah! Sampaikan kepada Mu’awiyah putra Harb dari seorang panyair dari negeri Yaman

Apakah engkau marah ketika dikatakan bapakmu seorang pria baik/terhormat… sedangkan engkau bangga bapakmu disebuat sebagai si pezina

Saksikanlah bahwa hubungan kekerabatanmu dengan Ziyâd seperti hubungan kekerabatan gajah dengan kuda peranakan (hasil kawin silang kuda dengan keledai). [4]

Inilah kisah pelacuran Sumayyah dengan Abu Sufyân dan kekafiran Mu’awiyah dengan memproklamasikan Ziyâd anak hasil pelacuran itu sebagai anak Abu Sufyân sebagai penentangan terang-terangan terhadap Allah dan Rasul-Nya!

Dan pada apa yang dilakukan Mu’awiyah di atas terdapat hal yang harus menjadi perhatian  kita semua yaitu bahwa Mu’awiyah benar-benar tidak memberikan nilai dan penghormatan sedikit pun kepada hukum Allah dan Syari’at Rasulullah saw. ia terang-terangan menentangnya dan  dengan ganas akan menghabisi nyawa siapapun yang berani menentangnya dalam penentangannya terhadap hukum Allah dan Syari’at Rasul-Nya saw.

Mu’awiyah bermaksud untuk mengatakan bahwa biarlah Muhammad berbicara menetapkan hukum sekehendaknya. Tetapi aku, Mu’awiyah juga berhak tidak menggubrisnya  dan berhak pula menetapkan hukum berdasarkan pendapat pribadi saja betapapun hukum Allah itu sudah segamblang matahari di siang bolong!

Dengan sikapnya itu Mu’awiyah bermaksud menghancurkan wibawa kenabian den mengubur dalam-dalam syari’at Rasulullah saw.! dan sikap inilah yang harus terus dipraktikkan oleh para khalifah setelahnya nanti.

Ia hendak membangun   sebuah bangunan yang pondasinya adalah penentangan terhadap syari’at Allah dan Rasul-Nya… Andai ia berhasil dalam proyek setannya itu pastilah umat Islam akan kesulitan menemukan syari’at yang dibawa Nabi Muhammad saw… yang akan kita dapati adalah hukum-hukum prodak keluarga besar Pohon Terkutuk, bani Umayyah. Inilah bahaya islam Umawi yang sedang dipromosikan Mu’awiyah dan para penguasa rezim tiran Bani Umayyah!

Karenanya Saad bin Qais berkata kepada Mu’awiyah, “Engkau adalah WATSANI/penyembah berhala/musyrik putra seorang WATSANI. Engkau masuk ke dalam Islam dengan terpaksa dan keluar kembali dengan suka rela. Imanmu tidak berakar dan kemunafikanmu tidak tersembunyi. Kami adalah para pembela agama yang engkau keluar darinya dan musuh-musuh agama yang engkau masuk ke dalamnya.” [5]

Al Qurthubi berkata ketika menafsirkan ayat 12 surah at Taubah:

“Dengan ayat:

وَ طَعَنُوا في‏ دينِكُمْ

“ … dan mereka mencerca agamamu,

sebagian ulama berdalil atas kewajiban dibunuhnya setiap orang yang mencerca agama sebab ia adalah KAFIR.

Dan ath Tha’nu/mencerca agama itu adalah dengan menisbatkan kepada agama sesuatu yang tidak pantas atau menentang dengan meremehkan sesuatu yang pasti dari bagian agama.[6]

Ternyata Hindun; Ibu Mu’awiyah Juga Wanita Bejat dan Doyan Melacur!

 Subhanallah! Rupanya memang keluarga Abu Sufyân itu merangkum anggota-anggota yang luar biasa. Keluarga terkutuk itu ternyata beranggotakan:

Suami: Abu Sufyân (nama aslinya Shakhr) bin Harb bin Umayyyah.

Hobi: Melacur.

Pekerjaan Tetap: Memerangi Rasulullah saw, dan agama Islam.

Istri: Hindun.

Hobi: Bersundal dengan kaum muda berbadan kekar dan khususnya pria kekar berkulit hitam.

Hobi Lain: Mengunyah jantung Hamzah ra. paman Nabi saw. setelah memutilasinya.

Pekerjaan Tetap: Mencari lelaki hidung belang yang siap berselingkuh dengannya.

Sejarah mencatat bahwa sebagian penduduk kota Mekkah mencurigai bahwa Mu’awiyah bukan anak Hindun dari Abu Sufyan, suaminya, tetapi dari satu di antara empat orang selingkuhan Hindun… Hindun benar-benar tante girang yang gemar bersundal, na’udzubillah min dzâlik.

Gosib bahwa Hindun gemar melacurkan diri bahkan dengan teman-teman suaminya adalah berita yang masyhur dan menjadi buah bibir masyarakat Arab tidak hanya penduduk kota Mekkah… memang suatu yang aneh. Kerena biasanya yang melacur dengan tanpa malu itu hanya kaum budak sahaya yang memang dipekerjakan oleh tuan-tuan mereka, seperti Sumayyah ibnu Ziyâd yang dizinai oleh Abu Sufyân suami Hindun! Adapun kaum merdeka apalagi dari keluarga yang lumayan terpandang biasa enggan berterang-terangan dalam berzina. Tapi berbeda dengan Hindun… Kebejatannya tidak lagi tersembunyi…. sehingga menjadi bahan perbincangan masyarakat Arab.

Hassân bin Tsâbit penyair Rasulullah (atas perintah beliau saw.) membalas ejekan para penyair kafir Quraisy dengan banyak bait syairnya yang membuat bungkam  kaum kafir Quraisy itu. Di antaranya Hassân bin Tsâbit berkata menyindir Hindun:

Bayi siapakah yang dibuang di sebelah lembah … tergeletak di atas tanah padang pasir tanpa ayunan…

Bait-bait syair Hassân bin Tsâbit itu dapat Anda jumpai dalam banyak referensi utama seperti Rabî’ul Abrâr oleh az Zamakhsyari,3/551 dan Dîwân (kumpulan syair-syair) Hassân bin Tsâbit:87.

Bait-bait syair itu digubah Hassân bin Tsâbit di hadapan Nabi saw. dan para sahabat yang di dalamnya ia menyebut-nyebut berbagai kebejetan dan kejahatan Abu Sufyân dan Hindun dan juga adalah tuduhan bahwa Hindun  adalah wanita gemar melacur, namun demikian beliau saw. tidak menegurnya dan apalagi melarangnya, misalnya dengan mengatakan, ‘jangan engkau menuduh secara palsu seorang wanita suci itu telah berzina.! Itu artinya, Nabi saw. membenarkan bahwa Hindun memang demikian. Dan para sahabat pun mengetahuinya.

Al Kalbi juga melaporkan  dalam kitab al Matsâlib bahwa Hindun termasuk di antara wanita-wanita yang gemar berzina dengan anak-anak muda dan ia condong kepada pria negro. Dan jika terlanjur hamil ia bunuh anaknya segera setelah kelahirannya. [7]

Kisah perselingkuhannya dengan seorang tamu suaminya yang bernama Fakih bin Mughirah al Makhzûmi, yang kemudian diketahui olehnya dan berakhir dengan diusir dan diceraikannya Hindun adalah berita masyhur. Para ulama telah meriwayatkannya dalam berbagai karya berharga mereka, seperti Ibnu Abil Hadid dalam Syarah Nahjul Balâghah (dengan tahqiq Muhammad Abul Fadhl Ibrahim),1/336 Imam as Suyûthi dalam Târîkh al Khulafâ’:205, Ibnu Katsir dalam al Bidâyah wa an Nihâyah,8/124 dan 125, Imam al- Haitsmai dalam Majma’ az Zawâid,9/265, Ibnu Abdi Rabbih al Andalusi dalam al ‘Iqdu al Farîd,6/95 dan Imam Sibthu Ibn Jauzi dalam Tadzkirah al Khawâsh:185.

Ringkas kata, untuk menyebutkan data-data pelacuran keluarga Abu Sufyan dan Hindun ini rasanya akan menyita berlembar-lembar … Dan rasanya juga menjijikkan. Jadi saya cukupkan sampai di sini!

(Bersambung Insya Allah)


[1] Syarah Nahjul Balâghah,1/340.

[2] Dan untuk sekedar memudahkan pembaca, kami cantumkan kembali riwayat itu di sini. Zubair bin Bakkâr (dan yang perlu dicatat di sini bahwa ia tidak perlu diragukan keberpihakannya kepada islam Umawy, sehingga Anda tidak perlu meragukan penulikannya) dalam kitab al Muwaffaqiyyât-nya meriwayatkan, “Mathraf bin Mughîrah bin Syu’bah berkata, ‘Aku bersama ayahku masuk menjumpai Mu’awiyah. Dan ayahku biasa mendatangi Mu’awiyah dan berbincang-bincang lalu sepulangnya ia menceritakan kepada kami kehebatan akal dan ide-ide Mu’awiyah. Lalu pada suatu malam ayahku pulang dan ia menahan diri dari menyantap makan malamnya, aku menyaksikannya sedih. Aku menantinya. Aku mengira kesedihannya karena kami. Lalu aku berkata, ‘Wahai ayah! Mengapakah aku menyaksikanmu bersedih sepanjang malam? Maka ia menjawab, ‘Hai anakku! Aku baru saja datang dari seorang yang paling kafir dan paling busuk’! Aku bertanya, ‘Apa itu?’ ia berkata, ‘Aku berkata kepada Mu’awiyah di saat aku berduaan dengannya, ‘Wahai Amirul Mukminin! Sesungguhnya engkau telah mencapai usia lanjut, andai engkau tanpakkan keadilan dan kamu berikan kebaikan. Andai engkau memerhatikan kondisi kerabatmu dari Bani Hasyim, engkau sambung tali rahim mereka. Demi Allah, tidak ada lagi pada mereka sesuatu yang perlu engkau takutkan. Hal itu akan membuat nama harum Anda menjadi langgeng dan pahala tetap untuk Anda. Maka ia berkata, ‘TIDAK! TIDAK! Sebutan apa yang aku harap dapat langgeng! Saudara dari suku Taim (Abu Bakar maksudnya) berkuasa lalu ia berbuat baik, lalu apa? Ia mati dan sebutannya pun juga mati bersamanya! Paling-paling orang-orang hanya menyebut-nyebut, ‘Abu Bakar! Abu Bakar! Saudara suku Adi (Umar maksudnya) berkuasa, lalu ia bersungguh-sungguh dalam berbuat baik, kemudian ia mati, maka mati pula sebutannya. Paling-paling orang-orang hanya menyebut-nyebut, Umar! Umar! SEMENTARA ITU ANAK PAK ABU KABSYAH NAMANYA DIPEKIKKAN SETIAP HARI LIMA KALI; “AKU BERSAKSI BAHWA MUHAMMAD ADALAH RASUL ALLAH” Amal dan sebutan apa yang akan langgeng! Celakalah engkau! Tidak! sehingga nama orang itu (Nabi Muhammad Saw maksudnya) dikubur dalam-dalam/ dafnan-dafnan!

[3] Ibid,5/129.

[4] Untuk kisah lengkap di atas dapat Anda baca dalam: al Istî’âb; Ibnu Abdil Barr ketika menyebut biodata Ziyâd, Târîkh Damasqus; Ibnu Asâkir,5/409, Usdul Ghabah; Ibnu al Atsîr dan al Ishâbah; Ibnu Hajar, Murujud adz Dzahab,3/14-17 ketika menyebut sejarah Mu’awiyah,  Al Ya’qubi dalam Târîkh-nya,2/195, Ibnu katsir dalam Târîkh-nya,8/28 dan sumber-sumber lain.

[5] Al ‘Iqdu al Farîd,4/315.

[6] Tafsir al Jâmi’ Li Ahkâm al Qur’ân,8/82.

[7] Coba lebih lanjut Anda baca dalam Tadzkirah al Khawâsh; Imam Sibthu Ibn Jauzi:184-185.

9 Tanggapan

  1. Muawiyah anak pelacur. Kali ini saya selain ingin menginjak nginjak muka muawiyah juga ingin melempar kotoran..

    Terkutuklah abu sufyan, hindun, muawiyah, yazid dan semua keturunan mereka yang fasiq …

  2. Itu adalah persoalan mereka dimasa lalu. Bagi yang ingin mempelajari silahkan hak masing masing. Tapi kita tidak harus ikut berselisih satu sama lain. Untuk apa ? Mari kita dakwahkan yang sama bersama sebab bagian itu jauh lebih banyak. Silahkan yang masih beda dibahas secara inter, intensif dan mendalam oleh ahlinya, sehingga ada titik temu. Kalau memang tidak ada titik temu maka kita harus menerima perbedaan yang ada dengan bijak, utamakan UKHUWAH ISLAMIYAH sebab UHUWAH ISLAMIYAH ADALAH BENDERA KEBANGKITAN ISLAM !

  3. kebaikan dan kebenaran tidak akan dicapai dengan menjelek2an orang lain. marilah ambil pelajaran dari sejarah untuk kejayaan islam

  4. mas tambakboyo… kalau cara berpikirnya seperti itu ya buat apa Allah menceritakan kisah2 orang-orang jahat sepanjang sejarah masa lalu?
    Apa Al Qur’an mengajak kita untuk membenci mereka padahal mereka tidak berhak dibenci? atau ?

  5. subhanallah… jadi terlihat jelas ya ustadz jakfari… mereka yang memerangi Imam Ali as itu ternyata anak zina semua.. ngeri ah.

  6. dasar orang syiah kerjanya mencela sahabat! bertobatlah engkau jakfari sebelum nafas berakhir ditenggorokanmu..

    _____________
    Ibnu Jakfari

    Tak mampukah anda menjawab artikel diatas?
    silahkan bantah dan baktikan secara ilmiah itu lebih afdol akhi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: