Salafy-Wahhabi Menggugat Syi’ah (1)

Salafy-Wahhabi Menggugat Syi’ah (1)

Di antara perkara yang menyebalkan bagi seorang Muslim yang peduli akan masa depan agama dan Umat Islam adalah ketika ia harus membicarakan dan mendiskusikan kembali masalah-masalah agama yang telah didiskusikan dan dibahas tuntas oleh para ulama terdahulu. Akan tetapi sepertinya sulit baginya untuk menghindarinya ketika ia dihadapkan dengan kondisi dimana ia dengan terpaksa harus mengulanginya demi membidas berbagai klaim dan tuduhan tidak berdasar yang dijajakan oleh sebagian orang yang tidak bertanggung jawab atau pena-pena komersial yang siap melayani tuan-tuan mereka…

Sebagian orang punya kegemaraan mengulang-ulang pembicaraan seputar masalah-masalah khilafiyah sebagai penyampung lidah fitnah pendahulunya untuk ia pekikkan di tengaah-tengah masyarakat Muslim tanpa bosan dan kekenduran semangat sedikitpun selama beradab-abad!

Itulah mungkin yang dilakukan oleh sebagian orang di antaranya adalah pendiri Sekte Sempalan Wahhabi…. Setelah ia meluncurkan edisi-demi edisi pengkafiran kaum Muslim Sunni dengan alasan bahwa mereka telah terjebak dalam kemusyrikan dalam ibadah/ penghambaan kepada Allah dengan praktik ritual kemusyrikan seperti tawassul, tabarruk, meminta syafa’at kepada seorang yang sudah mati, beristighatsah, menziarai kuburan dengan niat mendapat keberkahan, memperingati hari maulid Nabi Muhammad saw. atau hari maulid seorang wali Allah dan alasan-alasan lain yang tidak semestinya menjadi sebab pengkafiran…

kaum Sunni menjadi bulan-bulanan pengafiran Imam Agung Sekte Sempalan Wahhabi…. Yang tentunya dengan alasan yang sama bahkan dengan alasan bahwa praktik ritual tersebut di atas lebih kental di kalangan masyarakat Muslim Syi’ah maka ia juga menjatuhkan vonis kafir dan musyrik atas Syi’ah…. melalui buku-buku kecilnya, seperti Kitab at Tauhid dan kasyfu asy Syubuhât dll., Muhammad ibn Abdil Wahhab menvonis kafir Ahlusunnah dan tidak segan-segan menyebut mereka sebagi musyrik! Kafir! Pelestari agama Amr ibn Luhay dll. Sebagaimana melalui Risalah kecil berjudul Risalah ar Radd ‘Alâ ar Râfidhah ia menghujat Syi’ah dengan keras dan hujan panah fitnah beracun penuh kepalsuan.

Dalam kesemptan ini, saya bermaksud menetili berbagai gugatan dan tuduhan tidak berdasar Imam Agung Sekte Sempalan Wahhabi yang ia alamatkan kepada Syi’ah.

Beberapa belas tahun lalu, ketika saya sibuk belajar di sebuah Lembaga Bahasa Arab yang didirikan kaum Wahhabi di Jakarta pada tahun 90an, saya sudah diperkenalkan kepada buku kecil itu….

Buku itu penuh dengan caci-maki, tuduhan palsu dan fitnah keji, bahasa yang tidak santun, disamping banyak kesalahan yang mencerminkan kejahilan penulisnya… waktu itu saya belum banyak memahami kekurangan dan cacat berat dalam buku tersebut! Terlebih ketika itu, saya hidup di lingkungan para pemuda Wahhabi yang sedang “Gila” Arab Saudi dan semua yang datangnya dari para muthawwi’ Arab yang sok alim dan pandai!

Buku kecil Imam Agung Wahhabi itu terdiri dari 32 mathlab/bahasan dan penutup… sebagiannya hanya sekedar pengulangan… karenanya saya akan rangkum beberapa mathlabnya dengan menyebutkan dalil-dalil yang di kemukakan…. Setelahnya saya akan sanggah satu persatu dengan izin Allah Isya Allah.

Saya yakin para pembaca akan menyaksikan betapa rapuh dan amburadulnya sajian Imam Agung Wahhabi dalam masalah ini.

Mathlab Pertama

Khilafah

Pada Mathlab al Washiyyah, Syeikh Ibnu Abdi al Wahhab berkata:

إن مفيدهم قال في كتابه روضة الواعظين : ” إن الله أنزل جبريل على النبي صلى الله عليه وسلم بعد توجهه إلى المدينة في الطريق في حجة الوداع فقال : يا محمد إن الله تعالى يقرئك السلام ويقول لك : إنصب علياً للإمامة ونبّه أمتك على خلافته . فقال النبي صلى الله عليه وسلم : يا أخي جبريل إن الله بغّض أصحابي لعلي ، إني أخاف منهم أن يجتمعوا على إضراري فاستعف لي ربي .فصعد جبريل وعرض جوابه على الله تعالى . فأنزله الله تعالى مرة أخرى . وقال النبي صلى الله عليه وسلم مثلما قال أولاً. فاستعفى النبي صلى الله عليه وسلم كما في المرة الأولى . ثم صعد جبريل فكرّر جواب النبي صلى الله عليه وسلم ، فأمره الله تكرير نزوله معاتباً له مشدّداً عليه بقوله : ) يا أيها الرسول بلّغ ما أُنزل اليك من ربك وإن لم تفعل فما بلغت رسالته ( فجمع أصحابه وقال : يا أيها الناس إن علياً أمير المؤمنين وخليفة رب العالمين ، ليس لأحد أن يكون خليفة بعدي سواه ، من كنت مولاه فعلي مولاه ، اللهم وال من والاه وعاد من عاداه . انتهى .فانظر أيها المؤمن إلى حديث هؤلاء الكذبة الذي يدل على إختلاقه ركاكة ألفاظه وبطلان أغراضه ولا يصح منه إلا من كنت مولاه ، ومن إعتقد منهم صحة هذا فقد هلك ، إذ فيه إتهام المعصوم قطعاً من المخالفة بعدم إمتثال أمر ربه إبتداءاً وهو نقص ، ونقص الأنبياء عليهم الصلاة والسلام كفر….

“Sesungguhnya Mufid mereka; Ibnu Mu’allim berkata dalam kitab Rawdhatul Wâ’idhîn bahwa: Sesunnguhnya Allah menurunkan Jibril atas Nabi saw. setelah keberangkatannya menuju kota Madinah di tengan jalan dalam haji Wada’, ia berkata, ‘Hai Muhammad, Sesungguhnya Allah –ta’ala- menyampaikan salam atasmu dan berfirman kepadamu: “Tunjuklah Ali sebagai Imam, dan ingatkan umatmu akan kekhalifahannya.”

Nabi saw. bersabda, “Hai saudaraku Jibril, sesunggunya Allah telah menjadikan sahabat-sahabatku membenci Ali, aku takut mereka bersepakat untuk membahayakanku, maka mintakan maaf untukku dari Tuhanku. Lalu Jibril naik dan menyampaikan jawaban Nabi saw. kepada Allah –Ta’ala-, maka Allah menurunkan Jibril sekali lagi dan berkata kepada Nabi saw. seperti perkataannya yang pertama, Nabi pun meminta maaf (agar diberi izin untuk tidak menyampaikan) seperti pada kali pertama. Kemudian Jibril naik lagi dan mengulang jawaban Nabi saw., dan Allah pun memerintaah Jibri untuk turun lagi dan menegur Nabi saw. dengan teguran keras dengan firman-Nya:

.يا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ ما أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَ إِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَما بَلَّغْتَ رِسالَتَهُ.

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (QS. Al Mâidah [5];67)

Lalu Nabi saw. mengumpulkan para sahabatnya dan bersabda: “Hai sekalian manusia! Sesungguhynya Ali adalah Amirul Mukminin dan Khalifah rabbil Alamin. Tidak seorang pun yang berhak menajdi Khalifah setelahku selainnya. Barang siapa yang aku maula/pemimpinnya maka Ali juga peminpinnya. Ya Allah bimbinglah orang yang menjadikan Ali sebagai pemimpinnya dan musuhilah orang yang memusuhinya.” (selesai)

Perhatikan wahai saudaraku yang Mukmin hadis riwayat para pembohong itu yang kerendahan susunannya dan kebatilan tujuannya membuktikan kepalsuannya. Dan tidak ada yang shahih darinya selain sabda: من كنتُ مولاه  dan barang siapa di antara mereka meyakini keshahihan hadis itu maka ia benar-benar binasa, sebab di dalamnya terdapat tuduhan kepada seorang yang pasti kema’shûmannya bahwa ia melanggar perintah Allah dengan tidak menjalankan perintah-Nya. Dan hal itu adaalah sebuah kekurangan, dan kekurangan para nabi as. adalah kekufuran…!”

.

Sanggahan Kami:

Pada keterangannya di atas, ada dua perkara yang perlu mendapat perhatian:

Pertama: Tentang Syeikh Mufid dan kitab Rawdhatul Wâ’idhîn.

Setelah kami lakukan penelusuran dan penelitian terhadap nama-nama kitab-kitab karangan Syeikh Mufid yang dijalaskan dan dipaparkan para ulama Syi’ah ternyata tidak pernah ada karangan Syeikh Mufid yang betjudul Rawdhatul Wâ’idhîn.

Di kalangan ulama Syi’ah hanya ada empat kitab karya ulama mereka yang berjudul Rawdhatul Wâ’idhîn.

Rawdhatul Wâ’idhîn Fi Ahâdîtsi al Aimmati ath Thâhirîn karya Sayyid Hasyim ibn Ismail al Katkâni.
Rawdhatul Wâ’idhîn Fi Syarhi Ahâdîtsi al Arba’în ‘An Sayyidi al Mursalîn karya Maula Miskin al Farahi.
Rawdhatul Wâ’idhîn Wa Bashîrati al Mutta’idhîn Syeikh Syahid Abu Ali Muhammad ibn Ali ibn Ahmad ibn Ali al Hafidz al Wâ’idz al Fârisi yang dikenal dengan nama Ibnu al Fattâl.
Rawdhatul Wâ’idhîn Bi al Haqqi al Mubîn dengaan bahasa Persi tentang nasihat dan sejaraah para imam terdiri dari 27 pasal dan penutup.

Dari sini dapat diketahui dengan jelas bahwa Imam Agung Sekte Wahhabi ini jahil dan tidak mengenal apapun tentang Syeikh Mufid… ia hanya menebak-nebak seperti ahli nujum!!

Kedua: Tantang Riwayat tersebut yang ia kecam.

Andai benar kitab tersebut ada dalam kitab Rawdhatul Wâ’idhîn tulisan Syeikh Mufid seperti yang ia katakan, atau dalam kitab-kitab ulama Syi’ah! Andai benar, apakah riwayat tersebut hanya Syi’ah saja yang meriwayatkannya?! Atau jusretu ulama dan Muhaddis Ahlusunnah juga meriwayatkannya dan atau hadis-hadis dengan makna yang serupa dalam kitab-kitab mereka?!

Agar pembaca menyaksikan langsung bahwa kajahilan Syiekh Ibnu Abdi al Wahhab tidak terbatas pada pengenalannya atas kitab-kitab dan ulama Syi’ah, akan tetapi juga terhadap kitab-kitab dan karangan berharga ulama Ahlusunnah sendiri, agar pembaca mengetahuinya, saya akan sebutkan sekelumit riwayat yang diriwayatkan ulama Ahlusunnah dalam masalah ini.

(1) Dari Hasan, ia berkata, “Bahwa Nabi saw. bersabda, ‘Ketika Allah mengutusku dengan karasulan, aku menjadi sempit, aku mengatahui bahwa di antara orang-orang akan ada yang membohongkanku.’ Rasulullah saw. takut kepada kaum kafir Quraisy, kaum Yahudi dan Nashara. Maka Allah menurunkan ayat tersebut.

(2) Dari Mujahid ia berkata, “Ketika turun ayat: يا أيها الرسول بلغ مل أنزل إليك , Nabi bersabda, ‘Wahai Tuhanku, aku ini seorang diri bagaimana yang aku harus perbuat, orang-orang akan bersatu melawanku? Maka turunlah ayat:  وَ إن لم تفعل فما بلغت رسالته .

(3) Dari Ibnu Abbas ra. Tentang ayat: وَ إن لم تفعل فما بلغت رسالتهia berkata, “Jika engkau sembunyikan/rahasiakan satu ayat pun dari yang diturunkan kepadamu maka sama dengan engkau tidak menyampaikan Risalah-Nya.”

Riwayat-riwayat di atas dapat Anda baca langsung dalam:

o Asbâb an Nuzûl; al Wâhidi:204.

o Tafsir Fathu al Qadîr; Asy Syaukani,2/60.

o Tafsir ad Durr al Mantsûr,3/117.

o Tafsir Rûh al Ma’âni; al Alûsi,6/189.

o Tafsir Mafâtih al Ghaib; ar Râzi,2/49.

o Tafsir Ibnu Katsîr,2/80.

o Umdatu al Qâri Syarh Shahih Bukhari; al Qasthtallâni,18/206.

o Dll.

Al Qurthubi berkata, “Makna ayat itu adalah: Tampakkan tabligh, sebab beliau di awal masa Islam menyembunyikan da’wahnya karena takut dari kaum Musyrikin. Kemudian Allah memerintahkan dalam ayat ini agar beliau menampakkannya dan mengabarkan kepadanya bahwa Allah akan menjaganya dari gangguan manusia.” (Tafsir al Jâmi’ Li Ahkâm al Qur’ân; al Qurthubi,6/242.)

Ibnu Qutaibah berkata, “Menurut saya pada ayat itu terdapat kaata yang disembunyikan yang dijelaskan oleh kata setelahnya, yaitu bahwa Rasulullah saw. berhati-hati dengan sebagian kehati-hatian dan menyembunyikan sebagian yang beliau diperintahkan untuk menyampaikannya sesuai yang disampaikan kepada beliau sebelum Hijrah. Setelah Allah menaklukkan kota Mekkah dan Islam tersebar, Allah memerintahkan beliau untuk bertabligh seraca terang-terangan tanpa harus berhati-hati kepada kaum kafir atau takut atau merayu mereka. Dan dikatakan kepada beliau: “Jika engkau tidak menyampaikannya sesuai dengan yang engkau terima maka sama artinya engkau tidak menyampaikan Risalah Tuhanmu.” Dan yang menunjukkan makna itu adalah firman Allah:

وَ اللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ .

“Dan Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang- orang yang kafir.” Yaitu Allah akan mencagah manusia dari mengganggumu. (Masâil wa Ajwibah Fi al Hadîts wa at Tafsîr:222)

Fakhruddin ar Râzi berkata, “Telah diriwayatkan bahwa Nabi saw. ketika tinggal di kota Mekkah beliau menampakkan sebagian Al Qur’an dan menyembunyikan sebagian lainnya karena khawatir akan keselamatan dirinya dari sikap kasar kaum Musyrikun kepadanya dan kepada para sahabatnya. Dan ketika Allah telah menjayakan Islam dan menguatkannya dengan kaum Mukminin Allah berfirman kepadanya:

.

يا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ ما أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَ إِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَما بَلَّغْتَ رِسالَتَهُ.

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.”

Yaitu jangan engkau menghiraukan siapapun dan jangan engkau meningalkan suatu apapun yang diturunkan kepadamu karena takut ditimpa oleh kesusahan/kejelakan.” (Tafsir Mafâtih al Ghaib,12/49)

Dari kutuipan ringkas di atas dapat Anda sakskian bahwa pada riwyat-riwayat dan keterangan para ulama Ahlusunnah juga terdapat tuduhan bahwa Nabi saw. melanggar perintah Allah dengan tidak menjalankan perintah Allah dan tidak menyampaikan sebagian Risalah karena takut akan gangguan orang!

Dan jika memandang bahwa hal itu sebagai sebuah penyimpangan bahkan kekafiran, maka bukan hanya Syi’ah semestinya yang harus ia vonis… ulama Ahlusunah juga ternyata sama dengan Syi’ah dalam masalah ini!!

Sebab Nuzûl Ayat at Tablîgh

Adapun tentang sebab turunnya ayat at Tablîgh ubtuk Imam Ali as., maka perhatikan beberapa riwayat yang akan saya sebutkan di bawah ini.

1. Al Wâhidi, Ibnu ‘Asâkir dan as Suyuthi, asy Syaukâni, al ‘Aini dkk meriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudri, ia berkata, Ayat ini:

.

يا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ ما أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ.

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu.”

turun atas Rasulullah saw. pada hari Ghadir Khum tentang Ali ibn Abi Thalib ra.” (Asbâb an Nuzûl:204, ad Durr al Mantsûr,3/117, Tarikh Damasqus,42/37, Umdatu al Qâri,18/206, Fathu al Qadîr,2/60 dan al Fushûl al Muhimmah:42.)

2. Fakhruddîn ar Râzi berkata, “Ayat ini turun tentang keutamaan Ali ibn Abi Thalib. Dan ketika ayat itu turun, Nabi memegang tangan Ali dan bersabda: “Barang siapa aku maulanya maka Ali juga maulanya. Ya Allah bimbinglah yang menjadikan Ali sebagi pemimpinnya dan musuhi yang memusuhi Ali.” Lalu kemudian Umar menjumpai Ali dan ia berkata kepadanya, “Selamat hai putra Abu Thalib engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin setiap orang Mukmin dan Mukminah.”

Ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Barâ’ ibn ‘Âzib dan Muhammd ibn Ali.” (Tafsir ar Râzi,12/50)

Jalaluddin as Suyuthi dan asy Syaukani berkata: “Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa ia berkata, “Kami membaca ayat ini di masa Nabi demikian:

.

{يا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ ما أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ} أنَّ علِيًّا مولَى الْمُؤمنين { وَ إِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَما بَلَّغْتَ رِسالَتَهُ وَ اللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ}

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu, bahwa Ali adalah pemimpin kaum Mukminin. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.” (Ad Durr al Mantsûr,3/117 dan Fathu al Qadîr,2/60)

(Bersambung)

____________________

.

Lanjutan Artikel Berseri diatas silahkan mengklik tautan dibawah ini

.

  1. Wahhabi Menggugat Syi’ah (1)  Mukadimah
  2. Wahhabi Menggugat Syi’ah (2) Kemutwatiran Hadis Ghadir
  3. Wahhabi Menggugat Syi’ah (3) Penunjukan Ali Sebagai Khalifah!
  4. Wahhabi Menggugat Syi’ah (4)Petunjuk Hadis Ghadir
  5. Wahhabi Menggugat Syi’ah (5) Beberapa Bukti Pendukung Makna Hadis Ghadir Adalah Imamah!
  6. Wahhabi Menggugat Syi’ah (6) Apakah Penyebutan Kata Cinta dan Benci Mempengaruhi Pemaknaan Hadis Ghadir Untuk Arti Imamah?
  7. Wahhabi Menggugat Syi’ah (7) Turunnya Ayat at Tablîgh Adalah Bukti Kuat Hadis Ghadir Bermakna Imamah (1).
  8. Wahhabi Menggugat Syi’ah (8) Turunnya Ayat at Tablîgh Adalah Bukti Kuat Hadis Ghadir Bermakna Imamah (2)
  9. Wahhabi Menggugat Syi’ah (9) Turunnya Ayat at Tablîgh Adalah Bukti Kuat Hadis Ghadir Bermakna Imamah (3)
  10. Wahhabi Menggugat Syi’ah (10) Turunnya Ayat at Tablîgh Adalah Bukti Kuat Hadis Ghadir Bermakna Imamah (4)
  11. Wahhabi Menggugat Syiah (11) Turunnya Ayat at Tablîgh Adalah Bukti Kuat Hadis Ghadir Bermakna Imamah (5)
  12. Wahhabi Menggugat Syiah (12) Turunnya Ayat at Tablîgh Adalah Bukti Kuat Hadis Ghadir Bermakna Imamah (6)
  13. Wahhabi Menggugat Syiah (13) Turunnya Ayat at Tablîgh Adalah Bukti Kuat Hadis Ghadir Bermakna Imamah (7)
  14. Wahhabi Menggugat Syiah (14) Turunnya Ayat at Tablîgh Adalah Bukti Kuat Hadis Ghadir Bermakna Imamah (8)
  15. Wahhabi Menggugat Syiah (15) Turunnya ayat Ikmâluddîn (1)
  16. Wahhabi Menggugat Syiah (16) Riwayat Ibnu ‘Asâkir ad Dimasyqi
  17. Wahhabi Menggugat Syiah (17) Kenaifan Ibnu Taimiyah
  18. Wahhabi Menggugat Syiah (18) -Menyoal Sikap ibnu Katsir I-
  19. Wahhabi Menggugat Syiah (19) -Menyoal Sikap ibnu Katsir II-
  20. Wahhabi Menggugat Syiah (20) -Sejenak Bersama As Suyuthi-
  21. Wahhabi Menggugat Syiah (21) -Pembutaan Berencana Oleh Al Alusi !-
  22. Wahhabi Menggugat Syiah (22) -Hadis Ghadir Khum-

16 Tanggapan

  1. Masih ngotot kalau khalifah pertama Ali ra (bukan as) Bagi saya Ketetapan Allah dan RasulNya pasti terjadi.
    Apa mungkin Abu Bakar ra dapat merubah ketetapan Allah dan telah diwasiatkan oleh Rasulullah kepada Ali ra untuk menjadi khalifah pertama??? Apa.mau dikatakan Abu bakar ra bisa merubah ketetapan Allah karena Pada kenyataannya sejarah mencatat Abu bakar ra yang menjadi khalifah pertama.
    Kenapa Ali ra tidak protes dan mengatakan bahwa beliau yang dapat wasiat dari Rasulullah untuk.menjadi khalifah pertama??? apa Ali ra mau dikatakan PENGECUT, TIDAK.MENYAMPAIKAN AMANAH???
    Kenapa.sampai beliau (Ali ra) menjadi Khalifah juga tidak menceritakan atau menghukum Abu Bakar ra, Umar ra dan Ustman ra ketika beliau menjadi khlifah karena Abu Bakar, Umar dan.Usman merebut, merampok kekhalifahan.
    Semoga yang membaca tulisan disini mau.merujuk.kekitap aslinya sehingga tidak jadi seperti kerbau yang di cocok hidungnya

    Ibnu Jakfari:
    Sepertinya Anda tidak mengerti permasalahan. Jadi saya tidak akan menyita waktu saya untuk membuat Anda mengerti.
    Maaf.

    • @Salafi
      Sebaiknya tidak usah ngetik capek-capek kalau tidak mengerti permasalahan yang lagi dibahas…percuma….bikin penuh aja.
      Maaf

    • Penetapan ke Abubakar bukan KetetapanNya dan Ketetapan Rosul, tapi itu pilihan manusia atas egonya, kalau saja mereka Gentle tentunya menyelesaikan dulu Proses Pemakaman, baru melakukan Pemilihan, nah disini kelihatan sekali waktu cara mereka berargumentasi satu sama lain dengan FirmanNya :
      ” Bangsa Arab sangat sangat Kafir dan Munafiq sekali”—Buktinya tidak sedikitpun ada rasa hormat atau appresiasi, bahwa mereka pada posisi hampir masuk Jurang Neraka semuanya dan diselamatkan oleh Rosul, namun paktanya mereka biarkan Jasad Kaku Rosul dibiarkan tergeletak, dan Bani Hasyim benar-benar ditinggalkan tanpa arti apa-apa, dan dipenghujung proses kekhalifahan dari Abubakar dan Umar, terkuaklah bahwa mayoritas arab tidak menghendaki Nubuwah dan Imamah dalam satu Bayt (Rumah Rosul)—-Dan dampaknya yang merasakan adalah Umat Islam sekarang :

      Berikut isi Surat tersebut:
      Surat Muhammad bin Abu Bakar kepada Mu’awiyah:
      Bismillahirrahmanirrahim.
      Dari Muhammad bin Abu Bakar.
      Kepada si tersesat Mu’awiyah bin Shakhr.
      Salam kepada penyerah diri dan yang taat kepada Allah!
      Amma ba’du, sesungguhnya Allah SWT, dengan keagungan dan kekuasaan-Nya, mencipta makhluk¬Nya tanpa main¬main. Tiada celah kelemahan dalam kekuatan¬Nya. Tidak berhajat Ia terhadap hamba¬Nya. Ia mencipta mereka untuk mengabdi kepada¬Nya
      Ia menjadikan mereka orang yang tersesat atau orang yang lurus, orang yang malang dan orang
      yang beruntung.

      Kemudian, dari antara mereka, Ia Yang Mahatahu memilih dan mengkhususkan Muhammad saw dengan pengetahuan ¬Nya. Ia jualah yang memilih Muhammad saw berdasarkan ilmu¬Nya sendiri untuk menyampaikan risalah¬Nya dan mengemban wahyu¬Nya. Ia mengutusnya sebagai Rasul dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan
      Dan orang pertama yang menjawab dan mewakilinya, menaatinya, mengimaninya, membenarkannya, menyerahkan diri kepada Allah dan menerima Islam sebagai agamanya ¬adalah saudaranya dan misannya Ali bin Abi Thalib¬ yang membenarkan yang ghaib. Ali mengutamakannya dari semua kesayangannya, menjaganya pada setiap ketakutan, membantunya dengan dirinya sendiri pada saat¬saat mengerikan, memerangi perangnya, berdamai demi perdamaiannya, melindungi Rasul dengan jiwa raganya siang maupun malam, menemaninya pada saat¬saat yang menggetarkan, kelaparan serta dihinakan. Jelas tiada yang setara dengannya dalam berjihad, tiada yang dapat menandinginya di antara para pengikut dan tiada yang mendekatinya dalam amal perbuatannya
      Dan saya heran melihat engkau hendak menandinginya! Engkau adalah engkau! Sejak awal Ali unggul dalam setiap kebajikan, paling tulus dalam niat, keturunannya paling bagus, isterinya adalah wanita utama, dan pamannya (Ja’far) syahid di Perang Mu ’tah. Dan seorang pamannya lagi (Hamzah) adalah penghulu para syuhada perang Uhud, ayahnya adalah penyokong Rasul Allah saw dan isterinya
      Dan engkau adalah orang terlaknat, anak orang terkutuk. Tiada hentinya engkau dan ayahmu menghalangi jalan Rasul Allah saw. Kamu berdua berjihad untuk memadamkan nur Ilahi, dan kamu berdua melakukannya dengan menghasut dan menghimpun manusia, menggunakan kekayaan dan mempertengkarkan berbagai suku. Dalam keadaan demikian ayahmu mati. Dan
      engkau melanjutkan perbuatannya seperti itu pula.

      Dan saksi¬-saksi perbuatan Anda adalah orang-¬orang yang meminta-¬minta perlindungan Anda, yaitu dari kelompok musuh Rasul yang pemberontak, kelompok pemimpin¬-pemimpin yang munafik dan pemecah belah dalam melawan Rasul Allah saw
      Sebaliknya sebagai saksi bagi Ali dengan keutamaannya yang terang dan keterdahuluannya (dalam Islam) adalah penolong¬-penolongnya yang keutamaan mereka telah disebut dalam Al¬ Qur’an, yaitu kaum Muhajirin dan Anshar. Dan mereka itu merupakan pasukan yang berada di sekitarnya dengan pedang-¬pedang mereka dan siap menumpahkan darah mereka untuknya. Mereka melihat keutamaan pada dirinya yang patut ditaati, dan malapetaka bila mengingkarinya
      Maka mengapa, hai ahli neraka, engkau menyamakan dirimu dengan Ali, sedang dia adalah pewaris (warits) dan pelaksana wasiat (Washi) Rasul Allah saw, ayah anak¬-anak (Rasul), pengikut pertama dan yang terakhir menyaksikan Rasul, teman berbincang, penyimpan rahasia dan serikat Rasul dalam urusannya. Dan Rasul memberitahukan pekerjaan beliau kepadanya,
      sedang engkau adalah musuh dan anak dari musuh beliau (Rosul), Abu Sofyan peny..

      Tiada peduli keuntungan apa pun yang kau peroleh dari kefasikanmu di dunia ini dan bahkan Ibnu ’Ash menghanyutkan engkau dalam kesesatanmu, akan tampak bahwa waktumu berakhir sudah dan kelicikanmu tidak akan ampuh lagi. Maka akan jadi jelas bagimu siapa yang akan memiliki masa depan yang mulia. Engkau tidak mempunyai harapan akan pertolongan Allah,
      yang tidak engkau pikirkan.

      Kepada¬Nya engkau berbuat licik. Allah menunggu untuk menghadangmu, tetapi kesombonganmu membuat engkau jauh dari Dia.
      Salam bagi orang yang mengikuti petunjuk yang benar
      Jawaban Mu’awiyah kepada Muhammad bin Abu Bakar:
      Dari Mu ’awiyah bin Abu Sufyan.
      Kepada Pencerca ayahnya sendiri, Muhammad bin Abu Bakar .
      Salam kepada yang taat kepada Allah.

      Telah sampai kepadaku suratmu, yang menyebut Allah Yang Mahakuasa dan Nabi pilihan¬Nya dengan kata¬kata yang engkau rangkaikan. Pandanganmu lemah. Engkau mencerca ayahmu. Engkau menyebut hak Ibnu Abi Thalib dan keterdahuluan serta kekerabatannya dengan Nabi Allah saw dan bantuan serta pertolongannya kepada Nabi pada tiap keadaan genting.
      Engkau juga berhujah dengan keutamaan orang lain dan bukan dengan keutamaanmu. Aneh,
      engkau malah mengalihkan keutamaanmu kepada orang lain.

      Di zaman Nabi saw, kami dan ayahmu telah melihat dan tidak memungkiri hak Ibnu Abi Thalib.
      Keutamaannya jauh di atas kami.

      Dan Allah SWT memilih dan mengutamakan Nabi sesuai janji¬Nya. Dan melalui Nabi Ia menyampaikan dakwah¬Nya dan memperoleh hujah¬Nya. Kemudian Allah mengambil Nabi ke sisi¬Nya
      Ayahmu dan Faruq¬nya (Umar) adalah orang¬-orang pertama yang merampas haknya (ibtazza). Hal ini diketahui umum.
      Kemudian mereka mengajak Ali membaiat Abu Bakar tetapi Ali menunda dan memperlambatnya. Mereka marah sekali dan bertindak kasar. Hasrat mereka bertambah besar. Akhirnya Ali membaiat Abu Bakar dan berdamai dengan mereka berdua.
      Mereka berdua (Abubakar & Umar) tidak mengajak Ali dalam pemerintahan mereka. Tidak juga mereka menyampaikan kepadanya rahasia mereka, sampai mereka berdua meninggal dan berakhirlah kekuasaan mereka.
      Kemudian bangkitlah orang ketiga, yaitu Utsman yang menuruti tuntunan mereka. Kau dan temanmu berbicara tentang kerusakan ¬kerusakan yang dilakukan Utsman agar orang¬-orang yang berdosa di propinsi ¬propinsi mengembangkan maksud¬ maksud buruk terhadapnya dan engkau bangkit melawannya. Engkau menunjukkan permusuhanmu kepadanya untuk mencapai keinginan-¬keinginanmu sendiri.
      Hai putra Abu Bakar, berhati¬hatilah atas apa yang engkau lakukan. Jangan menempatkan dirimu melebihi apa yang dapat engkau urusi. Engkau tidak akan dapat menemukan seseorang yang mempunyai kesabaran yang lebih besar dari gunung, yang tidak pernah menyerah kepada suatu peristiwa. Tak ada yang dapat menyamainya
      Ayahmu bekerja sama dengan dia (Umarlah yang dimaksud, peny.) dan mengukuhkan kekuasaannya. Bila kamu katakan bahwa tindakanmu benar, (maka ketahuilah) ayahmulah yang mengambil alih kekuasaan ini dan kami menjadi sekutunya. Apabila ayahmu tidak melakukan hal ini, maka kami tidak akan sampai menentang anak Abu Thalib dan kami akan sudah menyerah kepadanya
      Tetapi kami melihat bahwa ayahmu memperlakukan dia seperti ini di hadapan kami, dan kami pun mengikutinya; maka cacat apa pun yang akan kau dapatkan, arahkanlah itu kepada ayahmu sendiri, atau berhentilah dari turut campur. (Nah!, ketahuanlah akhirnya, siapa malingnya?. Serapih-rapihnya, manusia menyimpan bangkai, toch akhirnya ketahuan juga – ketangkap tangan basah – MALINGNYA – Coup ‘de tat)
      Salam bagi dia yang kembali.

  2. ada kesalahan yang anda perbuat mas…mengartikan مفيد dengan syaikh mufid asy syi’i, akan tetapi مفيدهم yang dimaksud beliau adalah para ulama mereka. karena ada dhomir هم yang harus dimaknai dengan “ulama'” mereka. Dari keterangan ini saja jelas penulis sudah menanam hawa nafsu kebencian kepada syaikh Muhammad bin abdul wahhab….

    lalu dari segi maknanya, penulis juga hendak mengaburkan maknanya….seolah-olah ayat ini dipastikan turun berkaitan persoalan tersebut. padahal para ahli tafsir masih berselisih tentang dimana dan dalam kaitan apa ayat tersebut diturunkan.

    ada keterangan lain yang menerangkan tempat dan tujuan turunnya ayat tersebut yang berlainan dengan yang dibawakan penulis.

    Ibnu Mardawaih dan Adh Dhayya’ meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat tersebut turun di Mina berkenaan dengan Abbas bin Abdul Mutholib.

    Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Jabir bin Abdulloh bahwa ayat tersebut turun ketika Rosululloh saw memerangi Bani Anmar di dzatir raqi dalam kaitannya dengan Warits dari bani Najjar yang akan membunuh Rosululloh saw,

    So….. sangat jahil bila belum-belum kita sudah menetapkan bahwa ayat tersebut turun berkaitan dengan kekhalifahAN Ali ra….JAHIL…JAHIL…JAHIL…

    MUUTU BI GHOIDHIKUM.

    :

    • Yang Jahil tu siapa, coba antum tanyakan ke OKI Pusat Islam Ahli Sunnah Waljamaah, yaitu coba rangkup dari Kitabbu Sittah (6 Kitab Hadist Yang Super Shahih) dan kumpulkan, hadist-hadist yang diriwayatkan oleh :
      Ali, Fatimah, Hasan dan Husein karena mereka wafatnya sudah dewasa, pastilah yang antum/OKI dapatkan NOL BESAR, apa artinya ini secara tidak langsung Antum sekalian sedang mengatakan kepada Rosul telah gagal mendidik keluarganya dan ini berarti Rosul sudah menyimpang dari PerintahNya, yaitu :

      ” Selamatkan dirimu dan Keluargamu dari API NERAKA”, mungkinkah Rosul keluar dari Koridor ini, bila tidak dimana keberadaan mereka, kalau cari bahan dari Sunni sampai KIAMATpun ga mungkin mendapatkannya semisal :

      Nahjul Balaghah, Madinah Balaghah, Mizanul Hikmah, 540 hadist dari 14 Maksumim @ 40

      Nah, yang sedang berdusta itu siapa, makanya jangan TAKLID BUTA dulu pakai otak yang cerdas, baru Hijab terbuka seluas-luasnya, kalau masih tetap ingin bergabung dengan Salafy Sholihun/Sarafi Salahun, hatimu aku jamin kaku dan membatu, boleh buktikan kedepannya, shalawat anda pasti ga pakai aali Muhammad (Keluarga Muhammad), nah shalwat semacam itu hanya kelinteran aja di Atmosphere tanpa bisa tembus kelangit/Sidrotul Muntaha. Salam

  3. orang yang tidak mengakui bahwa syi’ah sudah jelas kekafirannya,,berarti mendukung kekafiran,,..syi’ah sudah jelas menyelisihi Al Qur’an dan sunnah

    Ibnu Jakfari:
    Apa buktinya kalau Syi’ah sudah jelas menyelisihi Al Qur’an dan Sunnah?
    Mengafirkan seorang Muslim saja sudah berat hukum dan konsekuensinya di hadapan Allah, lalu bagaimana dengan mengafirkan satu kelompok umat Islam yang jumlahnya ratusan juta, pasti lebih berat tznggang jawabnya di sisi Allah.
    Kita jangan main-main dengan pengafiran kaum Muslimin yzng berbeda mazhab dengan kita.
    Hanya ekstrimis Wahhabi sajalah yang gemar mengafirkan dan menghalalkan darah-darah kaum Muslimin sdlain kelompok mereka!!

    • Ibnu Jakfar saya hanya mau nambahkan saja, biar mereka ngerti, kalaupun mereka ga percaya kepada Ucapan Imam Ali, memang ini keberhasilannya Bani Umayyah, yang bagi saya Muawiyah itu equivalent dengan Saul/Paulus di Umat Nashoro yang berhasil merontokan Yudas Iskariot, jadi penghianat dan dirinya mengangkat diri sebagai Nabinya Jesus (Isa as)—dan Nabinya Jadi Tuhan—-Bani Umayyah berhasil membunuh Karakter dan Phisik Keluarga Rosul dan dia satu-satunya Pelindung, Pengayom Risalah Rosul sambil Kakinya menginjak-injak Hak Rosul tanpa Umat memahaminya, makanya Kewilayahan/Kepemimpinan tidak menjadi RUKUN untuk Kemaslahatan, justru ini yang menimbulkan PERPECAHAN samapai menjelang Kiamat dan lihat ucapan Imam Ali 1300 thn Y.L, isinya masih relevant dan fakta lapangan membuktikannya, namun tetap BUTA dan TULI akan semua ini. Yaitu :

      Tatkala ditanya tentang makna “ Sunnah, Bid’ah, Jamaah dan Furqoh (Perpecahan), Imam Ali as, berkata ‘ Demi Allah, Sunnah adalah Sunnah Muhammad SAW, Bid’ah adalah yang memisahkan diri dari Sunnah Muhammad (Sunnahnya, atau setara dengan Sunnah Ahad yang dibuat oleh Abubakar,.—“Nabi tidak mewarisi hartanya” peny)”. Demi Allah, Jamaah adalah bergabung bersama orang-orang yang berada DALAM KEBENARAN kendati jumlah mereka itu SEDIKIT dan FURQOH (PERPECAHAN) adalah bergabung bersama-sama orang-orang yang berada DALAM KEBATILAN. mesti JUMLAH mereka BANYAK. (Dan ini diucapkan 1300 tahun y.l—tapi masih relevant dan mudah untuk melihatnya.). Bagaimana?? adakah jawaban yang lebih argumentatif, saya kira ga ada tuh, karena ucapan Rosul bukan ASBUN—Pasti ada buktinya, ga mau juga ngerti ituma urusan otak masing-masing. Salam

  4. Maaf Saudara admin dan para pembaca blog ini, saya orang awam tapi ingin komen dengan keawaman saya. Kalau saya pikir, semua orang yang mencela kelompok muslim lain dg istilah “wahabi” sebenarnya tidak pernah mendalami Al Quran dan mengingat asma ul husna dari Allah. Apakah pantas men-cap orang yang dianggap jelek dengan meminjam asma ul husna (Al Wahhab)…? Tidak takutkah akan murka Allah? memperolok muslim lain saja dilarang apalagi dengan memakai namaNya. “ya Allah .. sadarkanlah mereka bila Engkau masih menyayanginya…”
    Memang mengkafirkan muslim lain adalah haram, tapi kajilah apakah benar mereka mengkafirkan kita? Jangan-jangan karena kebencian sudah sampai ke ubun-ubun kita, jadi setiap katanya bermakna mengkafirkan. …
    Selalulah haus akan hidayah Allah, sehingga setiap kata orang bijak bisa kita ambil hikmahnya
    Kesimpulan saya, bahwa para pemakai istilah wahabi yang ditujukan pada orang Arab adalah kelompok aliran Islam Tradisional yang selalu ingin mempertahankan tradisi mereka yang sudah jelas tidak bersumber dari Al Quran dan Hadist sohih.

  5. Tuh kan….padahal pada ngaku Muslim tapi terus bertengkar….Yahudi dan Nashrani tepuk tangan…….Semoga Alloh menghukum di dunia dan akhirat siapapun yang menyembunyikan maksud jahat dalam hatinya untukmerusak Al-Islam (SIAPAPUN…….dan dari KELOMPOK MANAPUN dan ALIRAN MANAPUN ………!!!!)

    Nggak ada contoh baik buat generasi penerus….!!!

  6. ya, mas @salafy benar, waktu Abu Bakar diangkat menjadi khalifah Ali juga ada, dan beliau tidak protes, demo

  7. Wahai saudara ku… Islam tidak bermazhab… Baca Alquran dengan memahaminya…lalu laksanakan…. Insya Allah kita selamat di dunia dan akhirat….

  8. waktu abu bakar diangkat menjadi khalifah, imam ali sedang mengurus jenazah Rosul SAW

  9. Terimakasih tuan telah menjelaskan details permasalahan ini sehingga terang untuk saya

  10. SIASAH DUA MUKA ARAB SAUDI DIHADAPAN IKHWANUL MUSLIMIN

    Kerajaan Arab Saudi mengumumkan bahawa Ikhwanul Muslimin sebagai Agensi Teroris. Dalam penjelasan kementrian dalam Negara Arab Saudi juga menyatakan bahawa kelompok “Nusrat” dan kelompok “Kerajaan Islam Irak dan Syam” yang bersama dengan……..

    https://ssyriaa.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: