Keistimewaan Para Perawi Hadis Syi’ah (Bag. 1) – Tanggapan Atas Anggapan Ustadz Idrus Ramli

Keistimewaan Para Perawi Hadis Syi’ah (Bag. 1)

Tanggapan Atas Anggapan Ustadz Idrus Ramli dalam: 

http://www.idrusramli.com/2014/syiah-ajaran-yang-penuh-propaganda/

Pendahuluan:

Akhir-akhir ini gencar disebarkan “isu/syubhat” bahwa ulama Mazhab Syi’ah tidak memiliki sanad dan atau kurang memberikan perhatian terhadapnya. Berbeda dengan Ahlusunnah.

Tuduhan ini pertama kali dilontarkan oleh Ibnu Taimiyyah (panutan kaum Wahabi Salafi). Dalam kitabnya Minhâj as Sunnah, ia berkata:

“Sanad (penyebutan mata rantai riwayat_pen) adalah salah satu keistimewaan umat ini. Ia adalah keistimewaan Islam, kemudian dalam Islam ia adalah keistimewaan Ahlusunnah. Dam kaum Rafidhah adalah termasuk kaum yang paling sedikit perhatiannya kepada sanad.”[1]

Lalu datanglah para pengikut Ibnu Taimiyah –yang hanya bertaklid buta- dengan menambah fitnah tersebut, seperti al Mar’asyi, ia mengatakan bahwa Syi’ah sama sekali tidak punya perhatian terhadap sanad karenanya mereka tidak memiliki sanad dalam hadis-hadis yang di atasnya mazhab mereka itu dibangun. Ia berkata: “Keistimewaan ini (isnâd/mata rantai riwayat) itu bersifat mutlak untuk umat Islam. Tetapi ia adalah keistimewaan khusus Ahlusunnah wal Jamâ’ah, Rafidhah dan kelompok ahli bid’ah lainnya tidak memilikinya.”[2]

.

Kemudian datanglah Doktor Abdurrahman al Shâleh al Mahmûd menerjang seluruh batasan ketika ia mengatakan dalam kata sambutannya atas kitab Mashâdir at Talaqqi wa Ushûl al Istidlâl al Aqa’idiyah ‘Inda al Imâmiyyah/Sumber-sumber Mengambilan (hadis) dan Dasa-dasar Istidlâl Akidah Menurut Syi’ah Imamiyah, karya Îmâm Shâleh al Alwâni:

“Dan tidak ketinggalan dalam kata pengantar ringkas ini saya ingatkan tentang dua masalah yang penting yang telah disinggung penulis dengan apik, walaupun saya berharap ia mau mengkhususkan masing-masing dari keduanya dengan kajian yang lebih rinci dan tersendiri. Masalah pertama: masalah Isnâd dan Ilmu Rijâl di kalangan Rafidhah dan membongkar kerapuhan metodologi mereka dalam masalah ini. Mereka (Rafidhah) membuat-buat –secara palsu- sanad-sanad pada abad keempat dan kelima setelah menyakiskan para imam Ahli Hadis Ahlusunnah memberikan perhatian besar terhadapnya seperti telah maklum.”[3]

.

Penggiat Anti Syi’ah Lokal Pun Angkat Bicara

Dan setelah itu, suara sumbang ini ditelan mentah-mentah oleh para Salafi Wahâbi lokalan (lulusan kampus-kampus Wahabi di Arab Saudi maupun di negeri lain)… dengan begitu semangatnya mereka menyebarkan isu palsu bak pepesan kosong ini… dengan menjadikan kaum awam -yang sebelumnya telah mereka cekoki kedengkian terhadap kaum Muslim Syi’ah- sebagai sasaran pembodohan dan fitnah tersebut.

Perhatikan apa yang ditulis pengelolah kiblat.net di bawah ini:

“Sementara itu Syiah meyakini bahwa mereka hanya mengakui riwayat dari ahlul bait. Akan tetapi mereka tidak memperhatikan sanad atau integritas para perawi layaknya Ahlussunnah. Sehingga hadits mereka penuh dengan kebohongan dan penyesatan.” (http://www.kiblat.net/2015/03/12/konsep-batil-hadits-syiah-dari-cacat-rawi-hingga-cacat-sanad/)

Dalam tulisannya yang panjang dan terkesan “agak-agak ilmiah” karena mulai bisa menukil langsung dari kitab-kitab Syi’ah walaupun sering kali keliru menarik kesimpulan, disamping terkadang salah dalam menyebut nama ulama, di mana Syeikh Muhammad Abu Zahrah ia katakana sebagai salah satu ulama kontemporer Syi’ah. Sebuah kekeliruan yang memalukan walaupun secara pribadi dapat  memaklumi karena orang-orang seperti mereka ini baru belajar mengenal Syi’ah sehingga ketika menyaksikan seorang menulis buku tentang Imam ash Shadiq as. (Imam Keenam Syi’ah) dianggapnya Syi’ah. Sementara semua juga tau, bahkan santri-santri kelas dasar juga kenal bahwa Syeikh Abu Zahrah adalah salah seorang ulama Ahlusunnah.. beliau salah seorang ulama Azhar. Dalam tulisannya itu kiblat.net berusaha menyakinkan bahwa dunia hadis Syi’ah sangat bermasalah…

Insya Allah dalam kesempatan lain poin-poin syubhat kiblat.net akan dikupas di sini.

Dan yang sangat mengherankan adalah sebagian Kyai muda NU –yang baru mulai belajar apa itu Syi’ah dari buku-buku kaum Wahâbi-Salafi juga terjebak dalam kubangan fitnah tersebut dan kemudian ikut-ikutan membenarkannya dan menyebarkannya dengan tanpa meneliti kevalidan isu miring ala Wahâbi Salafi itu.

Di antara mereka adalah saudara saya Ustdaz Idrus Ramli, ia berkata dalam triolog-nya: A ( Ahlusunnah), S (Syiah Rafidhah) dan W (Wahabi) yang ia muat dalam situs yang ia kelolah:

A: “Akhi berdua. Ana kira Syiah tidak perlu dikritik. Karena tidak memiliki sanad dan mata rantai keilmuan yang valid dan shahih.”

Dan ia juga melanjutkan:

Lalu A membuka rak kitab di belakang dia duduk, dan mengambil kitab kecil, terbitan lama, berjudul Ma’rifah Akhbar al-Rijal, karangan salah seorang ulama Syiah Rofidhoh terkemuka, yaitu Abu Amr Muhammad bin Umar bin Abdul Aziz al-Kasyi. Di kalangan Syiah Rofidhoh, kitab ini dikenal dengan nama Rijal al-Kasyi.

Lalu A membuka halaman 208 dan meminta S agar membaca dan menerjemahkannya. S membaca dengan agak lancar, tetapi ada beberapa bacaan yang keliru menurut bahasa Arab. Karena orang-orang Syiah memang banyak yang tidak bisa membaca kitab berbahasa Arab dengan baik. Lalu S membaca:

.

قَالَ يَحْيَى بْنُ عَبْدِ الْحَمِيْدِ الْحَمَّانِيُّ فِيْ كِتَابِهِ الْمُؤَلَّفِ فِيْ إِثْبَاتِ إِمَامَةِ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ ع. قُلْتُ لِشُرَيْكٍ إِنَّ أَقْوَامًا يَزْعُمُوْنَ اَنَّ جَعْفَرَ بْنِ مُحَمَّدٍ ضَعِيْفُ الْحَدِيْثِ فَقَالَ أُخْبِرُكَ الْقِصَّةَ كَانَ جَعْفَرُ بْنِ مُحَمَّدٍ رَجُلاً صَالِحًا مُسْلِمًا وَرِعًا فَاكْتَنَفَهُ قَوْمٌ جُهَّالٌ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِ ويَخَرْجُوْنَ مِنْ عِنْدِهِ وَيَقُوْلُوْنَ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنِ مُحَمَّدٍ وَيُحَدِّثُوْنَ بِأَحَادِيْثَ جُلُّهَا مُنْكَرَاتٌ كِذْبٌ مَوْضُوْعَةٌ عَلىَ جَعْفَرٍ لِيَسْتَأْكِلُوْنَ النَّاسَ بِذَلِكَ وَيَأْخُذُوْنَ مِنْهُمُ الدَّرَاهِمَ فَكَانُوْا يَأْتُوْنَ مِنْ ذَلِكَ كُلَّ مُنْكَرٍ.

“Yahya bin Abdul Hamid al-Hammani berkata dalam kitabnya yang disusun dalam menetapkan keimaman Amirul Mukminin. Aku berkata kepada Syuraik, bahwa banyak kaum yang berasumsi bahwa Ja’far bin Muhammad itu lemah haditsnya. Syuraik menjawab: “Aku ceritakan kejadiannya. Ja’far bin Muhammad itu seorang laki-laki yang shaleh dan seorang Muslim yang wara’. Lalu dia dikelilingi oleh kaum yang bodoh-bodoh, yang sering mendatangi beliau, dan keluar dari beliau lalu berkata, “Ja’far bin Muhammad telah menceritakan kepada kami”. Mereka menyampaikan hadits-hadits, sebagian besar adalah munkar, dusta dan dipalsukan kepada Imam Ja’far, dengan tujuan mencari makan dari manusia dengan hal itu dan mengambil uang-uang mereka. Dari situlah mereka melakukan semua kemungkaran.” (Abu Amr Muhammad bin Umar bin Abdul Aziz al-Kasyi, Ma’rifah Akhbar al-Rijal, hal. 208).

Kemudian ia menyimpulkan:

Akhi S, dalam pernyataan di atas, jelas sekali kalau orang-orang Syiah yang sering mendatangi Imam Ja’far al-Shadiq, itu sering menyampaikan hadits-hadits munkar, dusta dan palsu atas nama Imam Ja’far al-Shadiq, hanya untuk mencari makan. Maaf akhi, ini kesimpulan dari kitab Syiah sendiri. Dan sejalan dengan apa yang diterangkan oleh para ulama Sunni.”

S: “Iya ya. Kok ajaran Syiah yang kami ikuti benar-benar rapuh ya? Ana heran.” (http://www.idrusramli.com/2014/syiah-ajaran-yang-penuh-propaganda/)

Dari kalimat di atas disamping banyak cacat yang bisa dibongkar di sini, ia terlihat sedikit membanggakan kebolehannya dalam berbahasa Arab dan menganggap bahwa banyak Syiah yang tidak bisa membaca bahasa Arab… ia berkata: “S membaca dengan agak lancar, tetapi ada beberapa bacaan yang keliru menurut bahasa Arab. Karena orang-orang Syiah memang banyak yang tidak bisa membaca kitab berbahasa Arab dengan baik.” Saya tidak mengerti apakah seluruh atau kebanyakan kaum Sunni mengerti bahasa Arab? Sungguh kasihan menyaksikan orang yang berbangga merasa lebih unggul dari kaum awam Syia’h. Untuk poin ini saya tidak akan menaggapinya sama sekali karena ia bukan inti masalah. Hanya luapan rasa bangga seorang non Arab (ajami) yang mulai sedikit mengerti bahasa Arab, sementara ia lupa bahwa pakar dan penyusun ilmu Nahwu; Abul Aswad ad Duali itu Syi’ah! Pakar bahasa Arab; Khalil bin Ahmad al Farâhidi itu Syi’ah! Pakar sastra Arab; Ibnu Sikkit itu Syi’ah! Para penulis buku-buku bermutu dalam bahasa Arab seperti tafsir Mizan itu ulama Syi’ah Iran…. Serta ratusan ribu jilid kitab berbahasa Arab yang ditulis orang-orang Syi’ah, khususnya yang berkebangsaan Iran yang notabene sama dengan kita bangsa Indonesia. Di sini saya tidak ingin mengecilkan peran ulama Indonesia, khususnya yang NU (yang latar belakangnya sama dengan saudara Ustadz Idrus Ramli), dan menantang beliau untuk menyebutkan karya ulama Sunni Indonesia yang dapat menandingi satu persen saja dari karya berbobot ulama Syi’ah… saya tidak ingin mengatakan itu, karena saya tidak pernah merendahkan siapapun, apalagi para Kyai sepuh NU yang sangat saya hormati….

Sekali lagi berbangga diri dan menghina orang awam karena tidak mampu membaca tulisan berhabasa Arab dengan baik adalah sikap kerdil dan terlalu berbusung dada dengan sedikit ilmu yang ia miliki.

Dalam kesempatan ini saya tidak bermaksud membuktikan ketidak-validan tuduhan tersebut dengan membongkar selurun unsur kepalsuan dan fitnah yang terkandung di dalamnya. Untuk sementara ini saya akan fokuskan pada menghadirkan beberapa Keistimewaan Dunia Periwayatan Hadis Syi’ah dengan harapan mereka yang selama ini tertipu agar segera sadar, dan mulai meneliti kembali data-data yang selama ini telah mempengaruhi pola pandang mereka tentang Syi’ah, khususnya tentang hadis.

Dan insya Allah dalam kesempatan lain saya ajak pembaca melihat langsung kreatifitas ulama Syi’ah sejak abad pertama dan kedua dalam berkarya tentang Ilmu Rijâl yang menghimpun nama-nama para perawi dan sahabat (murid-murid) para imam Ahlulbait as. sebagai bukti nyata betapa besar perhatian Syi’ah terhadap masalah sanad dalam meriwayatkan hadis dari Nabi Muhammad saw. dan/atau para imam suci Ahlulbait as.

Karena, saya yakin bahwa tidak ada niatan bagi pencari kebenaran untuk tetap bersikukuh mempertahankan apa yang selama ini menjadi pandangannya setelah tersajikan di hadapannya bukti-bukti valid yang memporak-porandakan arugumentasinya (atau baca: syubhat-syubhatnya). Bukankah apa yang tidak mereka ketahui tentang Mazhab Syi’ah Imamiyah Ja’fariyah Itsnâ Asyariyah jauh lebih banyak dari apa yang mereka ketahui tentangnya. Belum lagi apa yang mereka ketahui sering kali berupa data-data yang tidak mewakili karena ia ditulis oleh pena-pena musuh Syi’ah atau paling tidak oleh mereka yang hanya mengenal Mazhab Syi’ah dari luar saja.

Sebelas Keistimewaan Para Parawi Hadis Syi’ah

Setelah sedikit pengantar di atas, mari kita perhatikan beberapa keistimewaan para parawi hadis Syi’ah agar menjadi jelas keagungan kedudukan mereka dan betapa besar perhatian mereka terhadap ilmu hadis….

Keistimewaan Pertama: Perhatian yang besar terhadap penjagaan dan penukilan hadis.

Perhatian murid-murid setia para imam suci Ahlulbait as. dalam mendengar, meriwayatkan dan menjaga hadis sangat luar biasa besarnya, sehingga ada di antara mereka yang menghimpun tiga puluh ribu hadis dari seorang Imam Ahlulhait as. Syeikh an Najjâsyi telah menuturkan dengan sanad yangt bersambung kepada Abân bin Utsmân dari Abu Abdillah ash Shadiq as. bahwa beliau berkata:

إنَ أبان بن تغلب روى عنَّي ثلاثين ألف حديث , فاروها عني.

“Sesungguhnya Abân bin Taghlib telal meriwayatkan dariku sebanyak tiga puluh ribu hadis. Maka riwayatkanlah hadis-hadis itu dariku.”[4]

Karena begitu agungnya kedudukan Abân bin Taghlib dalam Islam dan khususnya di sisi Imam para imam, sampai-sampai ketika ash Shadiq as. mendengar berita kematiannya, beliau as. berkata: “Demi Allah! Kematian Abân benar-benar telah membuat hatiku sakit/berduka yang sangat mendalam.”

Dan di antara yang membuktikan betapa besarnya perhatian para ulama dan parawi hadis Syi’ah dalam menukil dan meriwayatkan hadis serta mekodifikasinya adalah apa yang dilaporkan oleh an Najjâsyi dengan sanad bersambung kepada Ahmad bin Muhammad bin Isa al Asy’ari berikut ini: “Aku keluar menuju kota Kufah untuk mencari/memburu hadis, dan di sana aku berjumpa dengan Hasan bin Ali al Wasysyâ’, lalu aku meminta kepadanya agar ia mengeluarkan untukku kitab (kumpulan hadis) yang ditulis oleh al ‘Alâ’ bin Razîn al Qallâ’ dan Abân bin Utsmân. Kamudian ia mengeluarkannya untukku. Lalu aku berkata kepadanya: ‘Aku ingin Anda mengijazahkan kepadaku kedua buku ini.’ Maka ia berkata: ‘Semoga Allah merahmatimu. Mengapa kamu terburu-buru. Pergilah dan salinlah kedu bukun ini, lalu setelahnya dengarkan hadis-hadis itu dariku.’ Aku berkata: ‘Aku tidak merasa aman dari kejadian-kejadian mendakan di luar dugaan.’”

Ia berkata kepadaku: “Andai aku tau bahwa akan banyak yang menuntut hadis niscaya dahulu aku berbanyak-banyak mengambil hadis. Sesungguhnya aku telah bertemu di masjid ini (kota Kufah) sembilan ratus Syeikh semua mereka berkata: ‘Ja’far bin Muhammad (Imam ash Shadiq as) telah menyampaikan hadis kepadaku.”

Hasan bin Ali bin Ziyâd Al Wasysyâ’ berasal dari suku Bajali. Ia berasal dari kota Kufah. Ia adalah cucu Ilyâs ash Shairafi –salah seorang murid setia Imam Ali ar Ridha as.. al Wasysyâ’ adalah salah seorang tokoh Syi’ah. Ia meriwayatkan hadis dari Ilyâs; kakeknya.

Di antara hadis ia yang riwayatkan dari kakeknya adalah:

“Menjelang wafatnya, kakekku berkata kepada kami: ‘Bersaksilah untukku. Ini bukan saat untuk berdusta. Aku benar-benar mendengar Abu Abdillah (Imam ash Shadiq) as. berkata: “Demi Allah! Tiada seorang hamba mati dengan membawa kecintaan kepada Allah, rasul-Nya dan berwilayah (mengakui keimamahan) para imam (dari Ahlulbait_pen) lalu api neraka menyentuhnya.” Beliau mengulanginya hingga tiga kali tanpa kami yang memintanya mengulang. Hadis ini telah diberitakan kepada kami oleh Ali bin Ahmad dari al Walîd dari ash Shaffâr dari Ahmad bin Muhammad bin Isa dari al Wasysyâ’.”[5]

Dari kutipan riwayat detik-detik kematian Ilyâs; kakek al Wasysyâ’ dapat kita perhatikan dua poin penting yang terkait dengan pembahasan kita ini:

Pertama: Petapa besar perhatian para ulama dan perawi hadis Syi’ah dalam menyebarkan hadis-hadis yang mereka riwayatkan/dengar dari para imam Ahlulbait as.  

Kedua: betapa besar pula perhatian mereka dalam urusan sanad…. Terbukti mereka menyebutkan sanad riwayat yang menyambungkannya kepada sumber utama yang menukil dari Imam ash Shadiq as.

Dan kenyataan seperti bukan satu-satu bukti dan data yang akan memaksa pencari kebenaran untuk meninjau kembali kesimpulan-kesimpulan keliru mereka tentang dunia hadis di kalangan Syi’ah.

Dan al Wasysyâ’ telah menulis beberapa buku hadis dari riwayat Ahlulbait as., di ataranya:

  1. Tsawâbul Haj (Pahala Haji).
  2. Al Manâsik (tentang haji).
  3. An Nawâdir.
  4. Masâil al Imam ar Ridha as.

Al Ushûl Al Arba’u Miah

Di antara bukti nyata besarnya perhatian para ulama dan perawi hadis Syi’ah terhadap penjagaan, penyeleksian dan penulisan hadis-hadis Nabi saw. dan para imam suci Ahlulbait as. adalah keberadaan empat ratus karya/buku kumpulan hadis yang dikenal dengan mana al Ushûl al Arba’u Miah (Empat Ratus Ushûl).

Kata al Ushûl adalah bentuk jamak kata al Ashlu yang berarti Asal. Yang dimaksud dengan Al Ushûl Al Arba’u Miah adalah empat ratus buku kumpulan hadis yang ditulis oleh para murid Imam ja’far ash Shadiq as atau murid-murid beliau dan juga murid-murid para imam Ahlulbait as. selain beliau.

Muhaqqiq al Hilli berkata: “Telah ditulis dari jawaban-jawaban yang dituturkan/disabdakan (Imam) Ja’far bin Muhammad sebanyak empat ratus mushannaf (karya) yang dinamai para ulama Syi’ah dengan nama Ushûl.”[6]

Ath Thabarsi berkata: “Para ulama tersohor yang telah meriwayatkan hadis dari Imam ash Shadiq as. berjumlah empat ribu perawi. Dan telah dikarang empat ratus buku kumpulan jawaban-jawaban yang dinamai Ushûl. Hadis-hadis yang mereka himpun dalam empat ratus Ushûl itu adalah hadis dari riwayat-riwayat murid-murid Imam Ja’far as. dan murid-murid putra beliau; Musa al Kadzim as.”[7]

Selain dua keterangan di atas banyak keterangan lainnya yang telah disampaikan para ulama Syi’ah tentang keberadaan empat ratus Ushûl tersebut di mana ia menjadi pengandalan para ulama dan mujtahid Syi’ah dalam mengenali ajaran para imam suci Ahlulbait as.

Sebagian besar Ushûl itu ditulis di masa Imam Ja’far ash Shadiq as. yang mana masa itu adalah masa kelemahan dua kekuasan; masa akhir kekuasaan bani Umayyah dan masa awal pembentukan kekuasaan bani Abbas. Kisaran tahun 95 H -tahun kematian Hajjaj bin Yusuf seorang aparat bani Umayyah yang sangat kejam dan dikenal haus darah- hingga tahun 170 H – tahun harun menjabat sebagai Khalifah-. Demikian dituturkan Aghâ Bozrak ath Thahrâni dalam kitab adz Dzarî’ah-nya:2/131.

Sebagian besar Ushûl tetap terjaga dari kemusnahan hingga abad keenam terbuti dengan dimilikinya oleh Ibnu Idris al Hilli (w.598 H) di mana beliau kemudian mengoleksi hadis-hadisnya dalam kitab as Sarâir. Sebagimana sebagian yang tidak sedikit tetap terpelihara hingga masa Sayyid Ibnu Thawûs (w.664 H) seperti beliau tegaskan dalam kitab al Mahajjah-nya. Setelahnya secara bertahap kepedulian kepada kitab-kitab Ushûl itu menyedikit dengan kehadiran kitab-kitab induk seperti al Kafi, Man Lâ Yahdhurul Faqîh, al Tahdzîb dan al Istibshâr yang telah menghimpun hampir seluruh hadis yang termuat dalam kitab-kitab Ushûl tersebut.

Kelebihan kitab Ushul dibanding kitab-kitab hadis lainnya adalah penulisnya meriwayatkan hadis/sabda secara langsung dari Imam as. atau melalui satu perantara yaitu murid Imam as.

Keberadaan karya seperti itu membuktikan besarnya perhatian para ulama Syi’ah terhadap sabda-sabda para imam Ahlulbait as.

Untuk sementara saya cukupkan ulasan tentang keistimewaan pertama para perawi hadis Syi’ah. Dan sekarang mari kita ikuti keterangan tentang Keistimewaan Kedua.

(Insya Allah Bersambung)

 _____________

[1] Minhâj as Sunnah (dengan tahqîq Muhamamad Rasyâd Sâlim),7/37.

[2] Fathul Mannân:160.

[3] Mashâdir at Talaqqi: hal: bâ’ (pengantar).

[4] Rijâl an Najjâsyi:12/ Bodata no.7. Terbitan Muassasatun nasyri Li Jamâ’atul Mudarrisîn – Qom – Iran. Thn1407 H. dengan tahqiq Sayyid Musa asy Syubairi az Zanjâni.

[5] Ibid. 39-40, ketika membicarakan biografi al Hasan bin Ali al Wasysyâ’, no. 80.

[6] Al Mu’tabar,1/22.

[7] I’lâmul Warâ:166 dan adz Dzarî’ah,2/129.

4 Tanggapan

  1. Idrus ramli bin fulus

  2. idrus ramli ini termasuk kalangan muda NU garis keras..

    sangat mengkhawatirkan sebenarnya karena di NU mulai bermunculan ulama2 muda ekstrim..

    ulama2 moderat macam KH Said Agil Siradj, Hasyim Muzadi sudah mulai menua..

    saat ulama2 tua spt ini meninggal, dan digantikan ulama2 muda yg lebih ekstrim, saya mulai mengkhawatirkan nasib majemuk Indonesia.. terlebih karena pengikut NU jumlahnya sangat besar..

  3. […]          Keistimewaan Para Perawi Hadis Syi’ah (Bag. 1) – […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: