Keistimewaan Para Perawi Hadis Syi’ah (Bag. 2)

Tanggapan Atas Anggapan Ustadz Idrus Ramli dalam: http://www.idrusramli.com/

2014/syiah-ajaran-yang-penuh-propaganda/.

Setelah kita ketahui dan kenali keistimewaan para parawi hadis Syi’ah, mari kita ikuti ulasan lanjutan tentang keistimewaan berikutnya.

Keistimewaan Kedua:

Keistimewaan berikutnya yang kita saksikan dari para parawi hadis Syi’ah adalah semangat besar mereka dalam melancong demi menuntut hadis. Mayoritas para ulama’ dan ahli hadis (perawi hadis) Syi’ah pada abad kedua dan awal abad ketiga Hijrah mereka melancong dari negeri-negeri mereka yang jauh menuju kota suci Madimah al Munawwarah untuk berjumpa dengan para imam Ahlulbait as. demi menimba ilmu Rasulullah saw. dan mendengar hadis langsung dari lisan suci para imam as. Dan tidak sedikit dari mereka yang akhirnya menetap di kota suci Madinah untuk waktu yang cukup lama demi tujuan tersebut, sementara yang lainnya ada yang selalu berkunjung ke kota suci Madinah dalam kurun waktu yang berdekatan.

Di bawah ini saya akan sajikan beberapa contoh nama perawi dengan menyebut nama negeri atau kota asal mereka, di mana semua mereka itu telah meriwayatkan langsung dari lebih dari satu imam; Imam Zainal Abidin as. (w.94 H), Imam Abu Ja’far Muhammad al Baqir as. (w.114 H), Imam Ja’far ash Shadiq as. (w.148 H), Imam Musa al Kadzim as. (w.183 H) dan Imam Ali ar Ridha as. (w.203 H). Khalifah Ma’mun telah memindah paksa Imam ar Ridha as. ke kota Kurasân pada tahun 201 H.:

  • Al Qasim bin ‘Auf asy Syaibâni al Kûfi. Ia meriwayatkan dari Imam Ali bin Husain Zainal Abidin as.[1]
  • Abân bin Iyâsy al Bashri. Ia meriwayatkan dari Imam Ali bin Husain Zainal Abidin as..[2]
  • Jâbir bin Yazîd al Ju’fi al Kûfi. Ia meriwayatkan dari Imam al Baqir dan Imam ash Shadiq as.[3]

Syeikk ath Thûsi meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Jâbir, ia berkata: “Aku berkhidmad kepada tuan agungku Imam Abu Ja’far Muhammad bin Ali as. selama delapan belas tahun. Dan ketika aku hendak pulang, aku ucapkan selamat perpisahan kepada beliau, aku berkata kepada beliau: ‘Kumohon, beri aku manfaat (ilmu).’ Maka beliau berkata: ‘Hai Jâbir, apakah setelah delapan belas tahun ini (kamu masih meminta ilmu lagi)!’ Aku berkata: ‘Iya, benar. Kalian (para imam Ahlulbait as.) bak lautan yang tak akan pernah surut dan tak ada yang dapat menyelami dasarnya.’ Maka beliau berkata: ….. .”[4]    

  • Buraid bin Mu’awiyah al Ijli al Kûfi. Ia meriwayatkan dari Imam al Baqir dan Imam ash Shadiq as.[5]
  • Al Fudhail bin Yasâr al Nahdi al Bashri. Ia meriwayatkan dari Imam al Baqir dan ash Shadiq as.[6]
  • Abdul Malik bin Abdullah bin Sa’ad al Asy’ari al Qummi. Ia meriwayatkan dari Imam ash Shadiq as.[7]
  • Saif bin Umairah al Nakha’i al Kûfi. Ia meriwayatkan dari Imam ash Shadiq dan Imam Musa al Kadzim as.[8]
  • Rib’i bin Abdullah bin al Jârûd al Hudzali al Bashri. Ia meriwayatkan dari Imam ash Shadiq dan Imam Musa al Kadzim as.[9]
  • Umar bin Muhammad bin Yazîd, Bayyâ’ as Sâbiri al Kûfi. Ia meriwayatkan dari Imam ash Shadiq dan Imam Musa al Kadzim as. Beliau adalah salah satu ulama yang secara rutin berkunjung setiap tahun menemui Imam.[10]
  • Abdurraman bin al Hajjâj al Bajali al Kûfi lalu al Baghdâdi. Ia meriwayatkan dari Imam ash Shadiq dan Imam Musa al Kadzim as.[11]
  • Murâzim bin Hakîm al Madâini. Ia meriwayatkan dari Imam ash Shadiq dan Imam Musa al Kadzim as.[12]
  • Muhammad bin Shadaqah al Anbari al Bashri. Ia meriwayatkan dari Imam Musa al Kadzim dan Imam ar Ridha as.[13]
  • ‘Amr bin Sa’îd al Madâini. Ia meriwayatkan dari Imam ar Ridha as.[14]
  • Ma’mar bin Khallâd al Baghdâdi. Ia meriwayatkan dari Imam ar Ridha as.[15]

Sebagaimana para ulama dan Muhaddis Syi’ah di abad ketiga berkunjung untuk menemui para imam Ahlulbait as. yaitu Imam Muhammad al Jawad putra Imam Ali ar Ridha as. (yang mana beliau menghabiskan hampir seluruh umurnya di kota suci kakek teragung beliau Nabi Muhammad saw.), Imam Ali al Hadi as. (beliau tinggal di kota suci Madinah sebelum kemudian di masa-masa akhir hidup beliau dipaksa Khalifah bani Abbas untuk tinggal di kota militer Samurrâ’-Irak) dan Imam Hasan al Askari putra Imam Al Hadi as. (yang tinggal di kota Samurrâ’).

Di bawah ini saya akan sebutkan beberapa nama ulama dan Muhaddis Syi’ah yang melancong mengais hadis langsung dari lisan suci para imam keturunan Nabi Muhammad saw. di antara mereka tentu tidak sedikit yang sempat berjumpa dengan lebih dari satu Imam as.

  • Ali bin Mahzayâr al Ahwâzi. Ia meriwayatkan dari Imam al Jawad dan Imam al Hadi as.[16]
  • Ali bin Asbâth al Kûfi. Ia meriwayatkan dari Imam al Jawad as.[17]
  • Musa bin al Qasim al Bajali al Kûfi. Ia meriwayatkan dari Imam al Jawad as.[18]
  • Ahmad bin Ishaq al Asy’ari al Qummi. Ia meriwayatkan dari Imam al Jawad, Imam al Hadi dan Imam Hasan al Askari as.[19]
  • Ali bin Hadîd bin Hakîm al Madâini. Ia meriwayatkan dari Imam al Jawad as.[20]
  • Ahmad bin Muhammad bin Ubaidullah al Asy’ari al Qummi. Ia meriwayatkan dari Imam al Hadi as.[21]
  • Ali bin Bilâl al Baghdadi al Wâsithi. Ia meriwayatkan dari Imam al Hadi as.
  • Ali bin Sulaimân bin Rasyîd al ‘Aththâr al Baghdâdi. Ia meriwayatkan dari Imam al Hadi as. [22]
  • Daud bin Abi Zaid al Nisâburi. Ia meriwayatkan dari Imam al Hadi as.[23]
  • Ali bin Umar al ‘Aththâr al Quzwini. Ia meriwayatkan dari Imam al Hadi as.[24]
  • Muhammad bin Abi ash Shahbân Abdul Jabbâr al Qummi. Ia meriwayatkan dari Imam al Hadi dan Imam Hasan al Askari as.[25]

Sebagimana sebagian dari ulama dan Muhaddis Syi’ah mengadakan perjalanan untuk menemui para Masyâikh (guru besar) demi mendengar dari mereka hadis-hadis Nabi saw. dan para imam suci dari keturunan Nabi saw. mereka mengadakan perjalanan dari negeri-negeri mereka yang jauh hanya untuk mendengar dan memelihara hadis dan ilmu para imam as.

Di bawah ini saya akan sebutkan beberapa dari mereka:

  • Ahmad bin Muhammad bin Isa al Asy’ari al Qummi.

Beliau menlancong ke kota Kufah dalam rangkka memburu hadis. Di sana beliau bertemu dengan al Hasan bin Ali bin Ziyâd al Bajali al Wasysyâ’; salah seorang murid Imam Ali ar Ridha as. dan pepmesar Syi’ah di masanya.[26]

  • Al Fadhl bin Syâdzân al Azdi an Nisâbûri (w.260 H)

Beliau mendengar hadis dari para Masyâikh (Guru Besar) kota Baghdad dan Kufah seperti Muhammad bin Abi ‘Umair, al Hasan bin Ali bin Fadhdfhâl, Shafwân bin Yahya dkk.[27]

  • Sa’ad bin Abdullah bin Abi Khalaf al Asy’ari al Qummi (w.301 H atau 299 H).

Beliau mengadakan perjalanan ke luar negeri demi memburu hadis para imam Ahlulbait as.[28]

  • Al Hasan bin Muhammad bin Ahmad ash Shaffâr al Bashri.

Beliau telah meriwayatkan hadis dari Hasan bin Sumâ’ah (w.263 H), Muhammad bin Tasnîm, Abu Ar Rawâjini (w. 250 H), Muhammad bin al Husain bin Abi al Khaththab al Hamdâni (w. 262 H), Mu’awiyah bin Hakîm[29]… dan mereka semua adalah para tokoh ahli hadis kota Kufah. Itu artinya beliau melancong ke kota Kufah untuk memburu hadis dari para masyâikh itu.

  • Muhammad bin Mas’ûd bin Muhammad al Sulami as Samarqandi yang dikenal dengan nama al Ayyâsyi (penulis tafsir yang sangat terkenal)

Beliau mendengar hadis dari banyak masyâikh ahli hadis kota Kufah, Baghdad dan Qum (Iran).[30]

  • Abul Mufadhdhal Muhammad bin Abdullah asy Syaibâni al Kûfi (W. 297 atau 387 H)

Beliau telah menghabiskan seluruh usianya dalam melancong mencari hadis.[31]

Inilah beberapa catatan tentang perhatian para tokoh ahli hadis Syi’ah dalam memelihara dan mengabadikan hadis para imam Ahlulbait as.

Dan yang perlu dicatat di sini adalah bahwa tidak sedikit dari nama-nama yang telah saya sebutkan itu adalah para ulama hadis yang tidak sekedar berprofesi sebagai perawi hadis, tetapi mereka disamping sebagai perawi hadis, mereka juga adalah para pakar fikih dan disiplin ilmu-ilmu Islam lain, disamping tidak sedikit pula dari mereka telah mengabadikan hadis-hadis Ahlulbait as. yang mereka dengar, -baik langsung dari lisan suci para imam as. maupun dari para Masyâikh dan guru besar hadis- dalam kitab-kitab karya mereka.

Semoga sekelumit keterangan tentang aktifitas dan kreatifitas para perawi hadis Syi’ah ini dapat memberikan informasi segar seputar perhatian dan kegigihan mereka dalam memelihara hadis, dan agar terusir anggapan tidak berdasar yang berusaha mengecilkan bahkan meniadakan paran dan perhatian para Muhaddis Syi’ah dalam dunia hadis.

Insya Allah kita akan berjumpa lagi dalam ulasan tentang keistimewaan ketiga para perawi hadis Syi’ah. Nantikan.

___________

[1] Rijâl al Barqi:69 no.24. Terb. Muassasah al Imam ash Shadiq as. Thn.1430 H.

[2] Ibid. 71 no.29.

[3] Ibid. 74, no.11 dan 122, no.1.

[4] Lebih lanjut baca Amâli Syeikh ath Thûsi:302/Majlis ke 11.

[5] Rijâl an Najjâsyi:112, no.287.

[6] Ibid.309 no.846.

[7] Rijâl al Barqi:158 no.199.

[8] Rijâl an Najjâsyi:189, no.504.

[9] Ibid.167, no.441.

[10] Ibid. 283, no.751.

[11] Ibid.237, no.630.

[12] Ibid. 424, no.1138.

[13] Ibid. 364, no.983.

[14] Ibid, 287, no.767.

[15] Ibid. 421, no.1128.

[16] Ibid. 253, no.664.

[17] Ibid. 252, no. 663 dan Rijâl al Barqi: 346, no. 29.

[18] Rijâl al Barqi: 345, no.21.

[19] Rijâl an Najjâsyi: 91, no. 225.

[20] Rijâl al Barqi: 346, no. 28.

[21] Rijâl an Najjâsyi: 79, no.190.

[22] Rijâl al Barqi: 358, no. 23 dan Rijâl ath Thûsi: 388, no.5710.

[23] Rijâl al Barqi: 362, no. 42.

[24] Ibid. 366, no.57.

[25] Ibid. 365, no.53 dan: 375, no.19.

[26] Rijâl an Najjâsyi:39, no.80. seperti telah lewat disinggung.

[27] Rijâl al Kisysyi:455, no.416 ketika membicarakan biografi al Hasan bin Fadhdhâl.

[28] Rijâl an Najjâsyi:177, no.467.

[29] Lebih lanjut baca Rijâl an Najjâsyi: 48 no.101.

[30] Ibid.350-351, no.944.

[31] Ibid.396, no.1059.

2 Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: