Keistimewaan Para Perawi Hadis Syi’ah (Bag. 5): Kehati-hatian Dalam Menukil Hadis

Keistimewaan Para Perawi Hadis Syi’ah (Bag. 5)

Tanggapan Atas Anggapan Ustadz Idrus Ramli dalam: http://www.idrusramli.com/

2014/syiah-ajaran-yang-penuh-propaganda/.

Keistimewaan Kelima: Kehati-hatian Dalam Menukil Hadis

Dalam sejarah para parawi hadis Syi’ah kita menemukan lembaran-lembaran cemerlang kehati-hatian dalam menukil hadis, hal mana mencerminkan sikap terpuji dalam menjaga keotentikan dan kemurniannya serta adanya rasa tanggung jawab yang tinggi. Hal demikian tidak berarti kami mengklaim bahwa tidak ada di antara perawi Syi’ah yang kurang memberikan perhatian dalam masalah ini. Tetapi kondisi umum para parawi hadis Syi’ah adalah kehati-hatian dalam menukil.

Di bawah ini saya akan sajikan beberapa contoh dalam masalah ini:

  • Hammâd bin Isa Al Juhani al Bashri (W.209 H)

Al Kisysyi memberitakan dengan sanadnya yang bersambung kepada Hammâd bin Isa, ia berkata: “Aku bersama Abbâd bin Shuhaib al Bashri mendengar hadis dari Abu Abdillah (ash Shadiq) as., maka Abbâd menghafal dua ratus hadis, dan ia menyampaikan hadis-hadis dari beliau as., sedangkan aku menghafal tujuh puluh hadis.” Hammâd berkata: “Dan aku senantiasa mengoreksi hafalanku sehingga aku hanya sampaikan dua puluh hadis ini saja di mana aku sama sekali tidak mengalami keragu-raguan.”[1]

Demikianlah, sikap kehati-hatian yang ditunjukkan Hammâd bin Isa, di mana ia hanya berani meriwayatkan dua puluh hadis yang ia hafal dengan baik dari dua ratus hadis yang pernah ia dengar langsung dari lisan suci putra Rasulullah saw.; Imam Ja’far bin Muhammad ash Shadiq as.

  • Abul Qâsim Ja’far bin Muhammad bin Ja’far bin Musa bin Qûluwaih (W.368 H)

Syeikh Husain bin Ubaidullah al Ghadhâiri berkata: “Aku hadirkan kitab al Muntakhabât (karya Sa’ad bin Abdullah al Asy’ari al Qummi_pen) ke hadapan Abul Qâsim bin Qûluwaih (rh), aku baca di hadapan beliau. Lalu aku berkata: ‘Apakah Sa’ad menyampaian hadis-hadis (dalam kitab ini) kerpada Anda secara langsung?” Makai a berkata: ‘Tidak. Yang menyampaikan hadis-hadis dalam kitab ini kepadaku adalah ayah dan saudaraku dari Sa’ad. Aku tidak mendengar dari Sa’ad melainkan hanya dua hadis saja.’”[2]

Ini juga sebuah bentuk kejujuran sikap disamping kehati-hatian dalam menukil, di mana apa yang ia dengar dari seorang Syeikh melalui perantara perawi lain, ia jelaskan jalurnya… tidak menggugurkan nama perawi yang menjadi parantara dengan tujuan agar sanad itu menjadi ‘Aliy (tinggi/sedikit perantara dalam mata rantai sanad), sebab ke-aliy-an sebuah sanad memiliki nilai tersendiri di kalangan Ahli Hadis.

  • Abul Abbâs Ahmad bin Ali bin Ahmad an Najjâsyi al Asadi (W.450 H) penulis Kitab ar Rijâl.

Ketika membicarakan biografi Ahmad bin Muhammad bin Ubaidullah al Jauhari (W. 401 H) an Najjâsyi berkata: “Aku telah menyaksikan (berjumpa) dengan Syeikh ini, beliau adalah teman dekatku dan juga teman dekat ayahku. Aku telah banyak mendengar hadis darinya. Dan aku menyaksikan para syuyûkh (guru besar/tokoh) kami men-dha’if-kannya, karenanya aku tidak meriwayatkan satu hadis pun darinya dan aku tinggalkan dia.

Dia seorang ulama, sastrawan hebat dan penyair yang indah gubahan syairnya… semoga Allah merahmati dan memaafkan beliau. Beliau wafat tahun 401 H.”

Adapun alasan mengapa para ulama Syi’ah men-dha’if-kan beliau adalah apa yang dituturkan an Najjâsyi sendiri: “Dahulu ia banyak mendengar hadis lalu di akhir usianya ia idhtharaba, banyak kacau (salah) dalam menyampaikan hadis.”[3]

Dan ketika membicarakan biografi Abul Fadhl Muhammad bin Abdullah asy Syaibâni (W. 387 H), an Najjâsyi juga berkata: “Pada awal mulanya ia seorang yang kokoh/kuat hafalannya kemudian ia khallatha, kacau. Dan aku saksikan para ulama kami merendahkan dan mendha’ifkannya. …

Aku telah melihat Syaikh itu dan mendengar banyak hadis darinya kemudian setelahnya aku berhenti dari meriwayatkan hadis darinya kecuali dengan perantara orang lain.”[4]

Demikianlah sekilas contoh kisah kehati-hatian para ulama dan perawi hadis Syi’ah dalam menukil riwayat. Semoga informasi ini bermanfaat bagi kita semua.

___________________

[1] Rijâl al Kisysyi:267, no.146.

[2] Rijâl an Najjâsyi:178, no.467 ketika membicarakan biografi Sa’ab bin Abdullah al Asy’ari. Sa’ad, nama lengkapnya: Sa’ad bin Abdullah bin Abi Khalaf al Asy’ari; Abul Qâsim. Seorang Syeikh, tokoh besar dan Ahli Fikih Syi’ah. Beliau banyak mendengar hadis ulama Ammah (Ahlusunnah). Ia melancong dalam mencari hadis dan berjumpa dengan beberapa tokoh ahli hadis Sunni, di antaranya: Al Hasan bin ‘Arafah, Muhammad bin Abdul Malik ad Daqîqi, Abu Hatim ar Râzi dan Abbas at Turqufi…. Ayah beliau; Abu Khalaf tidak banyak meriwayatkan hadis. Sa’ad bin Abdullah ini memiliki banyak karya dan kitab kumpulan hadis yang telah sampai ketangan para ulama setelahnya seperti Syeikh an Najjâsyi, di antaranya: (1) Kita bar Rahmah, (2) Kitab al Wudhû’ (3) Kitab ash Shalâh, (4) Kitab az Zakât, (5) Kitab ash Shawm, (6) Kitab Bashâir ad Darajât, (7) Kitab ar Radd ‘Alâ al Ghulât, (8) Kitab Nâsikh Al Qur’ân wa Mansûkhihi wa Muhkami wa Mutasyâbihi, (9) Kitab Fadhlu ad Du’â’ wa adz Dzikr, (10) Kitab Jawâmi’ al Hajj, (11) Kitab Manâqib Ruwwât al Hadîts, (12) Kitab Matsâlib Ruwwât al Hadîts, (13) Kitab Qiyâm al lail, (14) Kita bar Radd ‘Alâ al Mujabbirah, (15) Kitab Fadhlu Qum wa al Kûfah, Kitab Fadhlu Abi Thâlib wa Abdil Muththalib wa Abi an Nabi , (16) Kitab Fadhlu an Nabi saw., (17) Kitab Ihtijâj asy Syi’ah ‘Alâ Zaid bin Tsabit tentang hukum waris, (18) Kitab an Nawâdir, dan (19) Kitab ad Nawâdir, (20) Kitab Manâqib asy Syi’ah, (21) Kitab al Muntakhabât. (Lebih lanjut dipersilahkan merujuk kitab Rijâl an Najjâsyi:177-178, no.467)

[3] Rijâl an Najjâsyi:85-86, no207.

[4] Ibid. 396, no.1059.

4 Tanggapan

  1. Jelas keliru orang yang menuduh syiah tidak punya sanad… jadi kalau nggak tau tentang sejarah hadis di syiah ya jangan ngomong sembarangan… itu dosa intelektual lho.

  2. Sudah 5 edisi saya ikuti… semakin jelas banyak orang yang tidak mengerti syiah tapi banyak ngomong ttg syiah…mungkin karena kebencian yg mendalam tanpa dasar, akhirnya ya begitu jadinya!

  3. […] Keistimewaan Para Perawi Hadis Syi’ah (Bag. 5): Kehati-hatian Dalam Menukil Hadis […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: