Keistimewaan Para Perawi Hadis Syi’ah (Bag. 6) Kerja Kolektif Dalam Mengkodifikasi Hadis

Tanggapan Atas Anggapan Ustadz Idrus Ramli dalam: http://www.idrusramli.com/

2014/syiah-ajaran-yang-penuh-propaganda/.

 Keistimewaan Keenam: Kerja Kolektif Dalam Mengkodifikasi Hadis

Tidak diragukan Lgi bahwa kerja kolektif dalam menyeksi dan mengkodifikasi hadis lebih utama dari kerja pridabi… dari sini, sebagian ulama dan perawi hadis Syi’ah bangkit melakukan pengumpulan hadis dalam buku-buku khusus secara kolektif dengan menyertakan rekan seperguruan yang memiliki kesamaan jalkur periwayatan, hal mana tentu lebih mengandung unsur ketelitian dan banyak faedah serta lebih jauh dari kesalahan. Di antara para ulama dan perawi hadis Syi’ah –yang tentunya mereka tidak sekedar pariwayat hadis tetapi juga sebagai ahli-ahli Fikih dan ilmu-ilmu Islam lainnya, seperti akan dijelaskan pada eistimewaan berikut nanti- yang melakukan kerja kolekfif dalam mengkodifikasi dan menghimpun hadis adalah:

  1. Jimîl bin Darrâj an Nakha’i.

An Najjâsyi berkata tentangnya: “Beliau adalah salah seorang Syeikh dan Tokoh Ahli Fikih Sekte Syi’ah. Seorang yang tsiqah. Beliau telah meriwayatkan dari Imam Ja’far ash Shadiq as. dan Imam Musa al Kâdzim as.. dn juga mengambil hadis dari Zurârah (salah seorang murid kepercayaan Imam ash Shadiq as._pen)…

Beliau wafat di mana Imam Ali ar Ridha as.

Beliau memiliki dua kitab kumpulan hadis, yang satu hasil kerja sama dengan Muhammad bin Humrân dan satunya dengan bekerja sama dengan Murâzim bin Hakîm.”

Dan kedua buku itu telah diriwayatkan oleh sekelompok ulama Syi’ah dan telah sampai ke tangan an Najjâsyi dengan sanad yang salah satu jalurnya beliau sebutkan dalam kitab ar Rijâl beliau, sebagaimana kebiasaan beliau hanya menybutkan satu jalur saja yang menyambungkan beliau kepada pemilik kitab-kitab dari kalangan ulama dan perawi hadis Syi’ah terdahulu.[1]

  1. Al Hasan bin Sa’îd al Ahwâzi.

Nama lengkapnya aadalah Al Hasan bin Sa’îd bin Hammâd bin Mirhân – maulâ Imam Ali bin Husain as.-; Abu Muhammad al Ahwâzi. Salah seorang murid Imam ar Ridha dan Imam Muhammad al Jawâd as. Beliau berkerja sama dengan al Husain; saudaranya dalam menyusun tiga puluh kitab kumpulan hadis walaupun kemudian yang lebih terkenal identic dengan kitab-kitab tersebut adalah Husain saudaranya.

Husain bin Yazîd as Sûrâi berkata: “Al Hasan telah menyekutui saudaranya dalam seluruh jalur periwayatan hadis kecuali pada jalur Zur’ah bin Muhammad al Hadhrami dan Fudhâlah bin Ayyûb, Husain saudaranya meriwayatkan dari kedua ulama ini sedangkan ia tidak.”

Khâl (saudara ibunya) yang bernama Ja’far bin Yahya bin Sa’ad al Ahwal adalah seorang parawi hadis dari Abu Ja’far ats Tsani (Imam Jawad) as. Demikian disebutkan oleh Sa’ad bin Abdullah.

An Najjâsyi menegaskan bahwa kitab-kitab yang ditulis oleh dua bersaudara ini adalah bagus dan dijadikan pijakan pengamalan.

Tiga puluh kitab itu adalah sebagai berikut: (1) Kitab Al Wudhû’, (2) Kitab ash Shalâh, (3) Kitab az Zakâh, (4) Kitab ash Shawm, (5) Kitab al Hajj, (6) Kitab an Nikâh, (7) Kita bath Thalâq, (8) Kitab al ‘Itqi wa at tadbîr wa al Mukâtabah, (9) Kitab Al Aimân wa an Nudzûr, (10) Kitab at Tijârât wa al Ijârât, (11) Kitab al Khums, (12) Kitabasy Syahâdât, (13) Kitab ash Shaid wa adz Dzabâih, (14) Kitab al Makâsib, (15) Kitab Al Asyribah, (16) Kitab az Ziyârât, (17) Kitab at Taqiyyah, (18) Kita bar Radd ‘Alâ al Ghulât, (19) Kitab al Manâqib, (20) Kitab al Matsâlib, (21) Kitab az Zuhd, (22) Kitab al Muruwwah, (23) Kitab Huqûq al Mu’minîn wa Fadhluhum, (24) Kitab Tafsir al Qur’an, (25) Kitab Kitabal Washâyâ, (26) Kitab al Farâidh, (27) Kitab al Hudûd, (28) Kitab Ad Diyyât, (29) Kitab al Malâhim, dan (30) Kitab ad Du’â’.

Kitab-kitab tersebut telah diterima para ulama Syi’ah dan diriwayatkan dengan berbagai jalur yang menyambungkan silsilah sanadnya kepada kedua penulisnya. An Najjasyi telah menyebutkan jalur beliau kepada kitab-kitab tersebut.[2]    

  1. Al Hakam bin Sa’ad al Asadi an Nâsyiri.

Seorang murid Imam Ja’far ash Shadiq as., seorang Arab tulen. Ia tidak banyak meriwayatkan hadis. Ia saudara Musyma’ill. Al Hakam dan saudaranya telah bekerja sama menulis sebuah buku: Kitab ad Diyât. An Najjâsyi telah memiliki sanad yang menyambungkan kepada kitab tersebut.[3]

  1. Al Husain bin Bisthâm bin Sâbûr az Zayyât

Beliau bersama saudaranya telah menulis sebuah buku tentang kedokteran. Sangat bagus dan banyak manfa’atnya. Tentang makanan dan manfaatnya, tentang janmpi-jampi dan Ruqyah.[4] Semuanya berdasarkan riwayat dari para imam suci Ahlulbait as., karenanya ia diterbitkan dengan judul Thibbul Aimmah.

  1. Ibrahim bin Muhammad al Asy’ari

Salah seorang murid Imam Musa al Kâdzim dan Imam Ali ar Ridha as. Beliau seorang ulama asal kota Qom Iran, tsiqah/jujur lagi terpercaya. Beliau telah bekerja sama dengan saudaranya yang bernama al Fadhl dalam menulis sebuah kitab. Kitab tersebut telah diriwayatkan dengan sanad bersambung kepada keduanya oleh Al hasan bin Ali bin Fadhdhâl (224 H).[5]

Selain melakukan kerja kolektif, sebagian ulama dan perawi hadis Syi’ah juga melakukan penyusunan dengan perapikan urutan bab dan bahasan kitab-kitab tertentu yang telah ditulis oleh para pendahulu, seperti yang dilakukan oleh:

(1) Abu Sulaiman Daud bin Kûrah al Qummi, ia merapikan pembaban kitab an Nawâdir karya Ahmad bin Muhammad bin Isa. Dan juga kitab al Masyîkhah karya al Hasan bin Mahbûb as Sarrâd sesuai dengan masalah-masalah Fikih.[6]

(2) Abu Ja’far Ahmad bin al Husain bin Abdul Malik al Azdi al Kûfi yang menghimpun dan merapikan pengurutan nama-nama para masyâikh.[7] Mungkin yang dimaksud adalah kitab al Masyîkhah karya al Hasan bin Mahbûb.

Demikianlah sekilas aktifitas yang dijalankan sebagian parawi hadis Syi’ah demi menjaga dan memelihara hadis Ahlulbait as. dan tentu selain nama-nama yang telah disebutkan masih banyak nama-nama lain sengaja tidak kami sebutkan di sini karena insyaallah dengan contoh-contoh di atas diharap telah membuat maklum bagaimana keseriusan para ulama dan Ahli hadis Syi’ah dan peran mereka dalam memelihara hadis.

______________

[1] Rijâl an Najjâsyi:126, no. 328.

[2] Ibid.58, no.136.

[3] Ibid. 136, no.352.

[4] Ibid.39, no.79

[5] Ibid.24, no.42.

[6] Ibid.158, no.416.

[7] Ibid. 80, no.193

3 Tanggapan

  1. Masya Allah. Syukron pak ustadz ya… kami tunggu lanjutannya. Ok.

  2. […] Keistimewaan Para Perawi Hadis Syi’ah (Bag. 6) Kerja Kolektif Dalam Mengkodifikasi Hadis […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: