Gara-gara Tidak Mau Ta’at Kepada Umar, Allah Mengancam Akan Menyiksa Rasulullah Muhammad Saw!

Gara-gara Tidak Mau Ta’at Kepada Umar, Allah Mengancam Akan Menyiksa Rasulullah Muhammad Saw

Seringkali kita menemukan kajian ulama Ahlusunnah tentang apakah Nabi berijtihad atau tidak; semuanya terikat dengan bimbingan wahyu suci, kita menemukan bahwa mayoritas atau boleh jadi seluruh ulama Ahlusunnah menerima konsep ijtihad Nabi saw…. bahkan lebih jauh mereka dengan bangganya mengatakan bahwa betapa sering Rasulullah saw. salah dalam berijtihad, sehingga Allah menegurnya bahwa mengancamnya dengan siksa sementara para sahabat ijtihadnya benar dan diapresiasi Allah.

Sepertinya ada komposisi yang selalu bersandingan, merendahkan kewibawaan Nabi saw. dan kenabian, dan pengagungan sahabat… seakan tidak absah mengagungkan sabahat tanpa menjatuhkan dan melecehkan wibawa Nabi saw…. atau memang demikian adanya ketika keagungan itu diukir dengan pahat kepalsuan.

Dalam hal ini saya tidak akan berpanjang-panjang dalam pengantar ini. Saya juga tidak akan membicarakan kerancuan pendefenisian ijtihad itu sendiri, yang pada akhirnya menjadi sarana memperkosa nash-nash suci Syari’at Allah!

Saya akan langsung mengajak pembaca pemperhatikan riwayat-riwayat mu’tabarah Ahlusunnah utamanya yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Shahîh tentang ‘Ijtihad Nabi saw.’ dalam menerima tebusan tawanan yang menyalahi ijtihad Umar, yang kemudian berujung dengan ancaman Allah atas Nabi-Nya karena menyalahi ijtihad Umar!! Kasus ini sengaja saya angkat mengingat ia acap kali dijadikan dalil kesalahan ijtihad Nabi saw.

Keterangan ulama Sunni tentangnya dapat Anda komfirmasi dalam berbagai kitab tafsir ketika membicarakan ayat 67 surat Al Anfâl, atau dalam kitab-kitab Sirah ketika membicarakan tawanan perang Badar.

Allah SWT berfirman:

ما كانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرى‏ حَتَّى يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ تُريدُونَ عَرَضَ الدُّنْيا وَ اللَّهُ يُريدُ الْآخِرَةَ وَ اللَّهُ عَزيزٌ حَكيمٌ

‘Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.’ (QS. Al Anfâl;67)

Karena teguran itu, Nabi saw. ketakutan sehingga menangis terseduh-suduh di pinggir jalan, lalu dipergoki Abu Bakar dan setelah mengetahui mengapa Nabi menangis, Abu Bakar pun ikut duduk di pinggir jalan umum itu menangis bersama Nabi saw. dan ketika Umar melewati jalan umum itu dan menemukan Nabi saw. menangis bersama Abu Bakar dan setelah mengetahui penyebabnya, Umar pun ikut menangis sehingga menjadi kor tangis di pinggir jalan umum… sebuah pemandangan luar biasa… saya tidak sanggup menggambarkannya dengan kata-kata… (dan anehnya yang memergoki Nabi saw menangis hanya dua sahabat itu saja, para sahabat lain entah kenama saat itu… apakah sedang tertidur lelap di rumah masing-masing atau mereka memergoki beliau hanya saja mereka tidak mempedulikan… tidak tertarik bergabung dalam koor tangis itu!)

Dan yang paling ganjil dalam kasus ini adalah episode di bawah ini:

إن كاد ليمسنا في خلاف ابن الخطاب عذاب عظيم، ولو نزل عذاب ما أفلت إلا عمر

‘Hampir-hampir kami karena menyalahi putra Khaththab ditimpa azab yang besar. Dan andai adzab turun tidak ada yang selamat kecuali Umar.’[1]

Dalam riwayat lain disebutkan:

كاد أن يصيبنا في خلافك شر

Gara-gara menyalahimu kami nyaris tertimpa keburukan.[2]

Demi Allah mereka yang meyakini kepalsuan ini dan yang semisalnya benar-benar tidak menghargai Allah dan Rasul-Nya…

وَ ما قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ

‘Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya.’ (QS. Al An’âm; 91)

ketika mereka semakin tenggelam dalam kesesatan pikiran..

Salahlah mereka yang menuduh Nabi saw. berijtihad dalam memerima tebusan untuk membebaskan tawanan dan karena ijtihad beliau saw. menyalahi ijithad Umar yang meminta agar seluruh tawanan dibunuh maka Allah mengancam akan menyiksa… karena peperangan belum mengganas merengut para pembesar kaum kafir, seperti yang disyaratkan Al Qur’an …

Demi Allah mereka benar-benar dalam kesesatan pikiran ketika menuduh bahwa apa yang terjadi belum digolongankan telah melumpuhkan kekuatan kaum kafir musyrik Mekkah… bukankah 70 puluh pendekar mereka tersungkur membangkai di bawah hunusan-hunusan pedang sahabat utama Imam Ali as. [dan Umar tidak berkehormatan menggorek kulit si kafir apalagi membunuhnya] sebuah bukti nyata bahwa Nabi saw. telah bersungguh-sungguh dalam melumpuhkan kekuatas kaum kafir musyrik? Lalu mengapakah ayat ini dikaitk-kaitkan dengan keputusan Nabi saw. untuk menerima tebusan dengan imbalan dibebaskannya 70 tawanan kaum kafir itu.

Sebenarnya ayat di atas justeru mengecam sebagian sahabat yang lebih memilih menghadang konvoi dagang kaum kafir Quraisy yang dikawal Abu Sufyan dalam perjalanan pulang dari negeri Syam… dan di antara mereka yang menginginkan memergoki konvoi dagang adalah Umar sendiri! Tetapi berkah kejeniusan tukang-tukang sulap kenyataan sejarah ini disulap menjadi kesalahan Nabi Muhammad saw. dan keutamaan Umar….

Selain itu, bukankah aneh, ketika Nabi saw. salah dalam berijtihad Allah akan menyiksanya, sedangkan para sahabat salah dalam berijtihad Allah “dipaksa” memberi bonus satu pahala!! Bukankah demikian konsep ijtihad yang diimani Ahlusunnah?

Sungguh sejarah Islam [yang sebenarnya adalah sejarah para penguasa] telah ditulis dengan pena-pena tidak amanat dan hanya berkhidmat untuk para penguasa.

Mengingat keterbatasan waktu saya akan akhiri kajian ini sampai di sini. Semoga bermanfaat.. Dan tidak ada maksud kecuali membela kesucian Nabi Muhammad saw. dari penghinaan sebagian umat beliau sendiri.

_____

[1] http://shamela.ws/browse.php/book-3055/page-3385.

[2] Ibid.

Satu Tanggapan

  1. Salam pak ustadz,
    “Selain itu, bukankah aneh, ketika Nabi saw. salah dalam berijtihad Allah akan menyiksanya, sedangkan para sahabat salah dalam berijtihad Allah “dipaksa” memberi bonus satu pahala!! Bukankah demikian konsep ijtihad yang diimani Ahlusunnah?”…..

    iyayah lucu juga kalo kita ikutin ajaran yg kayak gini,…..kok bisa yah sperti ini dipahami bulatbulat (jumud bin taqlidbuta) olh aswaja berlangsung sampai skrang?

    Kajian yg mencerahkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: