Lima Alasan Mengapa Imam Ali as. Disingkirkan Dari Kekhalifahan!

Lima Alasan Mengapa Imam Ali as. Disingkirkan Dari Kekhalifahan!

Sebuah Tinjauan Historis Ideologis

Penggeseran posisi Imam Ali as. dari kekhilafahan yang dilakukan oleh Kelompok Saqifah pimpinan sahabat dari pak Quraisy bukan dikarenakan tidak adanya nash penunjukan, akan tetapi lebih dikerenakan adanya pertimbangan ‘maslahat’ mereka dan pertimbangan-pertimbangan tertentu lainnya. Hal itu dapat kita saksikan dalam beberapa pernyataan para arsitek Kelompok Saqifah itu sendiri.

Dan dalam sejarah hidup para sahabat terlihat jelas adanya pola pandang pada sebagian mereka yang lebih memilih ‘bersikap sendiri’ dan mengedepankan pertimbangan kepentingan dan maslahat, khususnya dalam hal-hal sosial dan bahkan dalam sebagian masalah ibadah. Baca lebih lanjut

Ulama Ahlusunnah Menteror Ulama Yang Berani Meriwayatkan Hadis Keutamaan Imam Ali as. Dan Ahlulbait as.!!

Persembahan Buat Yang Suka Mengaku-ngaku!

Sunnah Nabi saw. adalah sumber utama Islaam setelah Al Qur’an al Karim! Kita semua termasuk Anda wajib untuk  mengimaninya … menjaganya… mengamalkannya dan memperjuangkannya… baik ia sesuai dengan hawa nafsu Anda… cocok dengan keyakinan kemazhaban Anda (yang bisa jadi sering kali dibangun di atas ketidak jelasan hujjah/dalil)!

Tetapi apakah demikian dengan sikap mereka yang mengaku-ngaku sebagai Pemilik Hak Paten Merk Ahlusunnah Wa al Jam’ah? Atau justru tidak demikian… keimanan dan ketundukan serta kesetiaan kepada Sunnah Nabi itu sebatas, apabila Sunnah itu (betapa pun ia benar-benar disabdakan mulut suci Sang Nabi mulia) sesuai dengan hawa nafsu dan doktrin kemazhaban betatapun doktrin itu menyimpang! Baca lebih lanjut

Mengimani Wilayah Ahlulbait as. Adalah Jaminan Keselamatan Dari Api Neraka Jahannam

Mengimani Wilayah Ahlulbait as. Adalah Jaminan Keselamatan Dari Api Neraka Jahannam

Allah SWT berfirman:

و قِفُوْهُمْ إنَّهُم مَسْؤُوْلُونَ

“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” (QS. ash Shaffat:24)

 Keterangan:

Di antara peristiwa-peristiwa mengerikan nun menentukan nasib di hari kiamat adalah diberhentikannya manusia di jembatan pemeriksaan di atas neraka Jahim. Allah memerintahkan para malaikat-Nya agar menahan umat manusia karena akan ada pertanyaan yang mesti mereka jawab. Pertanyaan yang akan mengungkap jati diri setiap orang. Allah berfiaman, “Hentikan (tahan) mereka karena mereka akan ditanyai.” Baca lebih lanjut

Nabi saw. Mengabarkan Kedengkian dan Pengkhiatan Umat Islam Terhadap Imam Ali as.

Nabi saw. Mengabarkan Kedengkian dan Pengkhiatan Umat Islam Terhadap Imam Ali as.

Kendati tak henti-hentinya Nabi saw. menasihati para sahabat dan umat Islam akan besarnya hak Ahlulbait as. atas mereka… kendati pesan demi pesan telah beliau sampaikan agar umat bersikap baik, mendukung, membela dan menerima kepemimpinan Ahlulbait as., namun pesan-pesan dan wasiat-wasiat Nabi saw. itu sepertinya tidak mendapat sambutan semestinya…

Mereka makin membenci Imam Ali dan Ahlulbait Nabi saw., sampai-sampai seakan andai Nabi saw. memerintahkan mereka untuk membencinya niscaya apa yang sudah mereka lakukan sudah melebihi dari cukup… Andai Nabi saw. memerintah mereka untuk mengkhianatinya niscaya pengkhianatan yang mereka lakukan sudah melebihi apa yang beliau perintahkan… mereka lebih memilih jalan pengkhianatan ketimbang kesetiaan… lebih menyukai jalan kebencian ketimbang kecintaan…. Baca lebih lanjut

Dialoq Ibnu Abbas ra. Dan Sayyinida Umar Seputar Perampasan Hak Imamah Ali as.

Dialoq Ibnu Abbas ra. Dan Sayyinida Umar Seputar Perampasan Hak Imamah Ali as.

Banyak spekulasi yang dipaksakan para ulama Sunni dalam menyikapi apa yang terjadi sesa’at setelah Nabi saw. wafat ketika para sahabat menyingkirkan Imam Ali as. dari hak kepemimpinan tertinggi umat Islam.. Mereka terpaksa mendustakan atau memalingkan ketegasan makna nash-nash penunjukan Imam Ali as. khususnya sabda Nabi saw. di Ghadir Khum, hanya karena satu alasan yaitu jika diterima kenyataan baahwa Nabi saw. telah menunjuk Ali sebagai Imam dan pemimpin tertinggi umat Islam sepeninggal beliau, mana mungkin para sahabat itu sepakat menentangnya?! Itu artinya kita menuduh para sahabat itu sebagai yang fasik karena terang-terangan menentang wasiat Nabi saw. Baca lebih lanjut

Gembong Kaum Nawashib Wahhâbi: Al Kadzdazb Ibnu Jibrîn Mengkufuri Hadis Kisâ’ Yang Mutawâtir!!

Gembong Kaum Nawashib Wahhâbi: Al-Kadzdzab Ibnu Jibrîn Mengkufuri Hadis Kisâ’ Yang Mutawâtir!!

Tak henti-hentinya kaum Nawâshib  (para pembenci Nabi saw dan keluarga sucinya yang kini banyak diwakili oleh masyâikh dan kader-kader dungu Salafi Wahhâbi) selau bersusah payah mencurahkan segenap kekuataan mereka dengan bantuan setan-setan gentayangan yang racunnya mengalir dalam urat nadi dan pembuluh darah mereka serta pikiran busuk… selau berusaha mengkufuri hadis-hadis shahih yang disabdakan Nabi mulia Muhammad saw. untuk keluarga sucinya!!

Kali ini hadis Kisâ’ yang mengisahkan sebab turunnya Ayat at-Tath-hîr (ayat 33 surah al Ahzâb[33]) yang telah diriwayatkan dari belasan sahabat Nabi saw. melalui tidak kurang dari seratus lima puluh jalur/isnâd dan telah dishahihkan oleh banyak ulama Sunni sendiri… kini hadis Kisâ’ menjadi korban kebiadaban mereka!

Perhatikan pengkufuran Ibnu Jibrin terhadap sabda suci Nabi tersebut sebagaimana ia muntahkan dalam komentarnya atas kitab Syarah Aqidah al Wasithiyah andalan kaum Wahhabi Salafi!

Baca lebih lanjut

Seri Hadis Keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait as. (V)

Siapa Yang Ingin Masuk Surga Hendakknya Mengikuti Ali dan Para Imam Suci Dari Ahlulbait as. (5)

  • Hadis Ammar ibn Yâsir ra.

Hadis lain yang juga menegaskan kawajiban mengikuti Ahlulbait as. sebagai jaminan keselamatan dunia-akhirat adalah hadis riwayat sahabat mulia Ammar ibn Yâsir –semoga Allah meridhai dan merahmatinya-.

Ammar berkata, Rasululllah saw. bersabda:

أوصي من آمن بي وصدقني بولاية علي بن أبي طالب ، فمن تولاه فد تولاني ، ومن تولاني فقد تولى الله ، ومن أحبه فقد أحبني ، ومن احبني فقد أحب الله ، ومن أبغضه فقد أبغضني ، ومن أبغضني فقد أبغض الله عز وجل.

“Aku berpasan kepada semua orang yang beriman kepadaku dan mempercayaiku agar ia menerima Wilâyah Ali ibn Abi Thalib. Siapa yang menerima Wilâyahnya berarti ia berWilâyah kepadaku, dan siapa yang berWilâyah kepadaku berarti ia berWilâyah kepada Allah. Siapa yang mencintainya berarti ia mencintaku dan yang mencintaku berarti ia mencintai Allah. Dan siapa yang membencinya berarti ia membenciku dan yang membenciku berarti ia membenci Allah –Azza wa Jallâ-.” Baca lebih lanjut