Lima Alasan Mengapa Imam Ali as. Disingkirkan Dari Kekhalifahan!

Lima Alasan Mengapa Imam Ali as. Disingkirkan Dari Kekhalifahan!

Sebuah Tinjauan Historis Ideologis

Penggeseran posisi Imam Ali as. dari kekhilafahan yang dilakukan oleh Kelompok Saqifah pimpinan sahabat dari pak Quraisy bukan dikarenakan tidak adanya nash penunjukan, akan tetapi lebih dikerenakan adanya pertimbangan ‘maslahat’ mereka dan pertimbangan-pertimbangan tertentu lainnya. Hal itu dapat kita saksikan dalam beberapa pernyataan para arsitek Kelompok Saqifah itu sendiri.

Dan dalam sejarah hidup para sahabat terlihat jelas adanya pola pandang pada sebagian mereka yang lebih memilih ‘bersikap sendiri’ dan mengedepankan pertimbangan kepentingan dan maslahat, khususnya dalam hal-hal sosial dan bahkan dalam sebagian masalah ibadah. Baca lebih lanjut

Keistimewaan Para Perawi Hadis Syi’ah (Bag. 4)

Tanggapan Atas Anggapan Ustadz Idrus Ramli dalam: http://www.idrusramli.com/

2014/syiah-ajaran-yang-penuh-propaganda/.

Keistimewaan Keempat: Adanya Perhatian Kepada Hadis Pada Level Keluarga/Marga

Sejarah hadis Syi’ah telah mencatat adanya perhatian yang sangat besar yang terlihat pada keluarga/marga-marga tertentu dalam ilmu hadis; periwayatan dan penjagaan, di mana kecenderungan dan semangat dalam menuntut hadis dan menyerbarkannya telah diwarisi oleh anggota-anggota keluarga tertentu tersebut generasi demi generasi.

Di bawah ini saya akan sebutkan beberapa contoh keluarga yang konsisten bergelut dengan dunia hadis, sejatinya mereka adalah keluarga para ulama:

  • Keluarha, Âlu Abi Syu’bah

Keluarga yang dikenal kemuliaannya di kota Kufah. Kakek mereka Abu Syu’bah telah meriwayatkan hadis dari Imam al Hasan dan Imam al Husain as. Para ulama hadis dari keluarga ini adalah orang-orang yang tsiqât/terpercaya dan ucapan/pendapat mereka dijadikan rujukan.[1]

Di antara ulama dan ahli hadis dari keluarga ini adalah:

  • Ubaidullah, (2) Muhammad, (3) Imrân, (4) Abdul A’lâ, semuanya adalah putra Ali bin Abi Syu’bah. (5) Yahya bin Imrân bin Abi bin Abi Syu’bah. (6) Ahmad bin Umar bin Abi Syu’bah.

Sekelumit Tentang Mereka

Tentang Ubaidullah bin Ali bin abi Syu’bah, an Najjâsyi berkomentar: “Keluarga Abu Syu’bah tinggal di kota Kufah. Keluarga ini dikenal di kalangan para ulama kami (Syi’ah)….

Dan Ubaidullah ini adalah tokoh dan pemuka keluarga tersebut. Ia menulis buku yang dinisbatkan kepada namanya lalu disodorkan kepada Abu Abdillah (Imam ash Shadiq) as.dan beliau menshahihkannya dan mengapresiasinya, lalu berkata: ‘Adakah mereka memiliki karya seperti ini?’”

Kitab karyanya telah diriwayatkan oleh sekelompok ulama kami dengan sanad bersambung kepada Ubaidullah dengan jalur yang banyak…

Kemudian an Najjâsyi menyebutkan satu jalur yang menyambungkannya kepada penulis kitab tersebut.[2]

Tentang Muhammad bin Ali bin Abi Syu’bah tersebut di atas, an Najjâsyi berkomentar: “Muhammad bin Ali bin Abi Syu’bah al Halabi[3]; Abu Ja’far, wajhu ash-hâbinâ wa Faqîhuhum/Tokoh para ulama kami dan seorang pakar Fikih panutan mereka. Beliau tsiqah/jujur lagi terpercaya, tidak aada kecaman atasnya sedikitpun, demikian juga dengan saudara-saudaranya; Ubaidullah, Imrân dan Abdul A’lâ.

Beliau memiliki kitab Tafsir ….

Dan juga memiliki kitab tentang hukum halal dan haram (Fikih) yang disusun berdasarkan bab perbab.”

Kedua kitab karya beliau telah sampai ke tangan Syeikh an Najjâsyi dengan sanad bersambung kepada penulisnya.[4]

Tentang Yahya bin Imrân bin Abi Syu’bah, an Najjâsy berkomentar: “Yahya bin Imrân bin Abi Syu’bah al Halabi. Ia telah meriwayatkan hadis dari Abu Abdillah (Imam ash Shadiq) dan Abul Hasan (Imam al Kâdzim) as.. Beliau adalah seorang ulama yang tsiqah tsiqah, shahîhul hadîts (jujur lagi terpercaya jujur lagi terpercaya, shahih hadis riwayatnya).

Beliau memiliki kitab kumpulan hadis yang telah diriwayatkan dari beliau oleh banyak ulama. Kemudian Syeikh an Najjâsyi menyebutkan jalur beliau yang manyambungkan kepada penulis kita tersebut.[5]

Tentang Ahmad bin Umar bin Abi Syu’bah, an Najjâsyi berkata: “Ahmad bin Umar bin Abi Syaibah al Halabi. Ia tsiqah/terpercaya lagi jujur. Ia meriwayatkan hadis dari Abul Hasan (Imam) ar Ridha as dan sebelumnya ia meriwayatkan dari ayahnya. ia adalah saudara sepupu dengan Ubaidullah, Abdul A’lâ, Imrân dan Muhammad al Halabi. Ayah mereka telah meriwayatkan hadis dari Abu Abdillah (Imam ash Shadiq) as… Mereka semua stiqât.

Ahmad bin Umar di atas memiliki kitab himpunan hadis yang telah diriwayatkan oleh sekelompok ulama.

Kitab itu telah sampai ke tangan an Najjâsyi dengan sanad bersambung kepada penulisnya.”[6]

Setelah mengenal sekilas kiprah dan jasa besar kelaurga Abu Syu’bah dalam melestarikan hadis Ahlulbiat as., mari kita lanjutkan dengan mengenal keluarga lain yang juga besar jasa dan perannya dalam pemeliharaan dan penyebaran hadis Syi’ah.

  • Keluarga Hayyân

Keluarga Hayyân adalah keluarga besar di kalangan komunitas Syi’ah. Putra-putra keluarga ini dikenal gigih dalam menuntut hadis. Mereka adalah Kûfiyyûn (penduduk asli kota Kufah). Artinya mereka adalah orang-orang Arab.

Di antara anggota keluarga besar ini adalah: (1) Ishaq. (2) Yunus. (3) Yusuf. (4) Qais. (5) Ismail. Mereka semua adalah keturunan Ammâr bin Hayyân al Taghlibi (dari suku bani Taghlib), dan (6) Ali serta (7) Bisyr keduanya adalah putra Ismail bin Ammâr bin Hayyân. Keduanya adalah tokoh ternama di antara para perawi hadis.

An Najjâsyi berkata tentang Ishaq bin Ammâr bin Hayyân: “Ishaq telah meriwayatkan hadis dari Abu Abdillah (ash Shadiq) dan Abul Hasan (al Kadzim) as.”[7]

  • Keluarga Ilyâs

Kelurga besar yang menghimpun banyak tokoh muhaddis Syi’ah, di antara mereka adalah: (1) ‘Amr bin Ilyâs al Bajali al Kûfi. Beliau telah meriwayatkan hadis dari Abu Ja’far al Baqir as dan Abu Abdullah ash Shadiq as. (2) Ilyâs bin ‘Amr bin Ilyâs..

Tentangnya an Najjâsyi berkomentar: “Ilyâs bin ‘Amr al Bajali, seorang Syeikh; Guru Besar di kalangan murid-murid Imam ash Shadiq as., teguh dalam meyakini kebenaran. Beliau adalah kakek al Hasan bin Ali anak putri Ilyâs. Beliau memiliki kitab kumpulan hadis yang telah diriwayatkan dari beliau oleh para tokoh ulama Syi’ah.” Syeikh an Najjâsyi memiliki sanad bersambung kepada kitab tersebut.[8]

Beliau dan seluruh putra-putranya; (3) Ruqaim, (4) ‘Amr, (5) Ya’qub, ketiganya adalah putra Ilyâs bin ‘Amr bin Ilyâs. Mereka semua juga telah meriwayatkan hadis dari Imam ash Shadiq as. mereka semua adalah para parawi tsiqât/terpercaya lagi jujur.

Dan (6) Al Hasan bin Ali bin Ilyâs al Bajali al Wasysyâ’; (cucuk) anak dari anak perempuan Ilyâs bin ‘Amr, beliau (Al Wasysyâ’) adalah salah seorang murid Imam ar Ridha as. dan salah seorang tokoh terhormat kelompok Syi’ah.[9]

  • Keluarga Nu’aim al Ghâmidi

Sebuah keluarga besar yang terhormat. Di antara tokoh-tokoh yang terlahir dari keluarga ini adalah: (1) Syadîd, (2) Abdus Salâm, keduanya adalah putra Abdurrahman bin Nu’aim al Azdi al Ghâmidi dan beliau adalah salah seorang murid terpercaya Imam ash Shadiq as.[10] (3) Ghunaimah binti Abdurrahman, beliau telah meriwayatkan hadis dari Imam ash Shadiq as. dan Imam Musa al Kadzim as. (4) Bakr bin Muhammad bin Abdurrahman, beliau adalah seorang tokoh terhormat Syi’ah. An najjâsyi berkomentar: “Bakr bin Muhammad bin Abdurrahman al Azdi al Ghâmidi; Abu Muhammad, seorang tokoh terhormat Syi’ah dari keluarga agung di kota Kufah dari keluarga Nu’aim al Ghâmidi. ..

Beliau seorang yang tsiqah dan berusia panjang. Beliau memiliki kitab himpunan hadis yang telah diriwayatkan dari beliau oleh para tokoh ulama ahli hadis Syi’ah.” Kitab tersebut telah sampai kepada Syeikh an Najjâsyi dengan sanad bersambung kepada penulisnya.[11]

Dan (5) Musa bin Abdus Salâm bin Abdurrahman.

  • Keluarga A’yan

Keluarga Syi’ah terbesar yang ada di kota Kufah, kebanyakan putra-putra keluarga ini adalah tokoh. Keluarga ini eksis hingga waktu yang cukup lama. Abu Abdillah bin al Hajjâj telah menghimpun nama enam puluh tokoh ahli hadis dari keluarga ini.[12]

Abu Ghâlib Ahmad bin Muhammad bin Sulaiman az Zuzâri (W.285 H) berbicara tengtang keluarga ini –dan ia salah satu dari keturunan keluarga ini-: “Kami adalah keluarga yang telah Allah –Azza wa jalla- beri anugerah dengan agama-Nya, dan mengkhususkan kami dengan persabahatan dengan para kekasih-Nya dan hujjah-hujjah-Nya atas makhluk-Nya… Dan jarang seorang dari kami melainkan ia telah meriwayatkan hadis (dari para imam as.).”[13]

Di antara tokoh-tokih agung dari keluarga ini adalah: (1) Humrân, (2) Zurârah, (3) Abdul Malik, (4) Bukair, (5) Abdurrahman. Kesemuanya adalah putra A’yan bin Sunsun asy Syaibâni. (6) Abdullah, (7) Abdul hamîd, keduanya adalah putra Bukair bin A’yan. (8) Al Hasan, (9) al Husain, Ubaid, Rûmi dan (10) Abdullah, kesemuanya adalah putra Zurârah. (11) Hamzah dan (12) ‘Uqbah, keduanyaa adalah putra Humrân bin A’yan. (13) Dhurais bin Abdul Malik bin A’yan, (14) Al Hasan bin al Jahm bin Bukair bin A’yan. Dan (15) Muhammad serta (16) Abdullah bin Zurârah. Serta masih banyak lagi nama-nama harum selain yang disebutkan di atas.[14]

demikianlah sajian seputar beberapa contoh keluarga Syi’ah yang menekuni periwayatan dan pengawalan hadis para imam Ahlulbait Nabi as. Semoga dapat menambah wawasan dan pengetahuan kita tentang perhatian para tokoh dan ulama Syi’ah terhadap hadis dan agar kita tidak mudah tertipu oleh isu-isu tidak berdasar yang dialamatkan kepada mazhab Syi’ah Imamiyah Ja’fariyyah Itsnâ Asyariyah.

(Insya Allah Bersambung)

__________

[1] Rijâl an Najjâsyi:230, ketika menyebutkan biografi Ubaidullah bin Ali al Halabi dengan no.612.

[2] Ibid.

[3] Al Halabi adalah kata nisbat kepada kota Halab (Suria). Ubaidullah dan saudara-saudaranya disebut Halabi padahal mereka berasal dari kota Kufah karena mere bersama ayah mereka Ali berdagang ke kota Halab. (Jâmi’ ar Ruwât,1/529).

[4] Ibid.325, no.885.

[5] Ibid.444, no.1199.

[6] Ibid.98, no.245.

[7] Ibid.71, no.169.

[8] Ibid.107, no. 272.

[9] Tentang beliau dapat And abaca kembali ketarangan pada bagian 1 tulisan ini.

[10] Baca Dawru asy Syi’ah Fil Hadîts; Allamah Syeikh Ja’far Subhâni:197 dari Rijâl ath Thûsi.

[11] Rijâl an Najjâsyi:108, no. 273.

[12] Risâlah Abi Ghâlib az Zurâri:127.

[13] Ibid.113 dan 127.

[14] Tentang mereka semua dapat Anda baca dalam: Risâlah Abi Ghâlib az Zurâri, Fihrasat Syeikh ath Thûsi: 140 ketika membicarakan biorgafi Zurârah no.295, Rijâl an Najjâsyi.

Salafy-Wahhabi Menggugat Syi’ah (1)

Salafy-Wahhabi Menggugat Syi’ah (1)

Di antara perkara yang menyebalkan bagi seorang Muslim yang peduli akan masa depan agama dan Umat Islam adalah ketika ia harus membicarakan dan mendiskusikan kembali masalah-masalah agama yang telah didiskusikan dan dibahas tuntas oleh para ulama terdahulu. Akan tetapi sepertinya sulit baginya untuk menghindarinya ketika ia dihadapkan dengan kondisi dimana ia dengan terpaksa harus mengulanginya demi membidas berbagai klaim dan tuduhan tidak berdasar yang dijajakan oleh sebagian orang yang tidak bertanggung jawab atau pena-pena komersial yang siap melayani tuan-tuan mereka…

Sebagian orang punya kegemaraan mengulang-ulang pembicaraan seputar masalah-masalah khilafiyah sebagai penyampung lidah fitnah pendahulunya untuk ia pekikkan di tengaah-tengah masyarakat Muslim tanpa bosan dan kekenduran semangat sedikitpun selama beradab-abad! Baca lebih lanjut

Ulama Ahlusunnah Menteror Ulama Yang Berani Meriwayatkan Hadis Keutamaan Imam Ali as. Dan Ahlulbait as.!!

Persembahan Buat Yang Suka Mengaku-ngaku!

Sunnah Nabi saw. adalah sumber utama Islaam setelah Al Qur’an al Karim! Kita semua termasuk Anda wajib untuk  mengimaninya … menjaganya… mengamalkannya dan memperjuangkannya… baik ia sesuai dengan hawa nafsu Anda… cocok dengan keyakinan kemazhaban Anda (yang bisa jadi sering kali dibangun di atas ketidak jelasan hujjah/dalil)!

Tetapi apakah demikian dengan sikap mereka yang mengaku-ngaku sebagai Pemilik Hak Paten Merk Ahlusunnah Wa al Jam’ah? Atau justru tidak demikian… keimanan dan ketundukan serta kesetiaan kepada Sunnah Nabi itu sebatas, apabila Sunnah itu (betapa pun ia benar-benar disabdakan mulut suci Sang Nabi mulia) sesuai dengan hawa nafsu dan doktrin kemazhaban betatapun doktrin itu menyimpang! Baca lebih lanjut

Benarkan Para Ulama Ahlusunnah Mencemooh Seorang Yang Belajar Hadis Dari Imam Ja’far ash Shadiq as.?!

 

Persembahan Untuk Mereka yang Suka Mengaku-ngaku!

Seperti yang selama ini kita kenal bahwa kemunitas Muslim Sunni (ASWAJA) adalah mencintai dan menghormati Ahlulbait, keluarga dan keturunan Nabi saw. bahkan lebih dari itu mereka mengklaim sebagai pewaris sejati ajaran Ahlulbait as. (dan bukan Syi’ah)… Ketika kaum Syi’ah menegaskan bahwa mereka adalah pengikut Ahlulbait as. dan mazhab mereka dinamakan mazhab Ja’fari karena Imam Ja’far-lah yang terbuka kesempatan di masa beliau untuk mewariskan ajaran leluhur beliau para imam suci Ahlulbait as. yang mereka warisi dsari Nabi mulia Muhammad saw…. ketika kaum Syi’ah menyatakan itu… segera teman-teman Ahlusunnah berteriak mengatakan: Bohooong! Syi’ah bukan pengikut Imam Ja’far… bukanpengikut Ahlulbait! Kamilah Ahlusunnah pengikut sejati Imam Ja’far!

Baca lebih lanjut

Ahlu Sunnah Versus Ahli Bid’ah!

Ahlu Sunnah Versus Ahli Bid’ah!

Berebut Merek Lupa Esensi

Dua istilah yang sejak lama telah dimonopoli kelompok tertentu untuk mempropagandakan validitasnya dalam mewakili Sunnah dan ajaran murni Islam! Kelompok tertentu itu mengklaim bahwa kelompoknya-lah satu-satunya yang mewakili ajaran/Sunnah Nabi saw. secara utuh dan kâffah! Sedangkan kelompok lain adalah Ahli Bid’ah yang menyimpang dari kemurnian ajaran dan Sunnah Nabi Islam! Baca lebih lanjut

Syi’ah Dan Abdullah ibn Saba’ (Bagian 7)

Sebab Sesungguhnya Pemberontakan Atas Khalifah Utsman ibn Affan

Selagi kita sedang membahas dongeng palsu yang menyebutkan bahwa pemberontakan atas Khalifah Utsman adalah didalangi oleh Abdullah ibn Saba’ dan antek-anteknya yang teracuni pikiran jahat lagi sesatnya… Maka pasti kita ingin mengetahui sebab pasti sesungguhnya yang memicu pemberontakan yang berakhir dengan terbunuhnya Khalifah ketiga Utsman ibn Affan.

Seperti telah diisyaratkan dalam lembaran-lembaran sebelumnya bahwa ketidak-puasan dan kemudian pemberontakan kaum Muslim terhadap Khalifah Utsman tidak lain adalah dipicu oleh faktor-faktor eksternal daan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di masa kekhalifahan Utsman. Dan yang demikian itu bukanlah rahasia bagi Anda yang membaca dan meneliti sejarah masa kekhalifahan Utsman, khususnya paruh terakhir masa kekhalifahannya. Baca lebih lanjut